Translate

Minggu, 31 Agustus 2014

Quotes of Nona Muda

Dua tahun sudah berlalu, kala pilkada DKI Jakarta telah menyita perhatian Indonesia. Sosok Jokowi-Basuki muncul menawarkan gebrakan perubahan. Meski terlihat hanya sebuah retorika awalnya, tapi kerja nyata keduanya mampu membuktikannya. Perbedaan partai politik tak membuat mereka saling mengusik. Jokowi dan Ahok mengerti, bahwa untuk membangun ibukota, Jakarta memerlukan "orang tua" yang lengkap. Karenannya mereka berdua selalu terlihat kompak dengan masing-masing yang saling menjaga sikap. Perbedaan pendapat tentu sering terjadi.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kenaikkan Harga BBM

Kenaikkan harga BBM kini jadi topik paling banyak diperbicangkan. Semua sibuk membahas dan berbalas opini di warung kopi. Ada yang pro, ada yang kontra. Pemerintah yang lama dilema, memilih antara meninggalkan kesan buruk di akhir jabatan atau meringankan beban sang suksesor di masa depan. Sedangkan pemerintahan yang baru tak ingin di awal masa pemerintahannya terganggu dengan adanya ribuan mahasiswa yang unjuk rasa di Istana Merdeka. Segala usulan tentang alternatif penyelesaian harus dipertimbangan. Pemerintahan transisi harus mengeluarkan kemampuannya melobi-lobi agar kesepakatan bersama dapat tercipta. Sebulan kedepan adalah penentuan jalannya pemerintahan lima tahun kedepan. Rakyat Indonesia bosan menyaksikan drama yang mengatasnamakan kepentingan bangsa. Kalaupun BBM harus naik, seharusnya bukan hanya rakyat miskin yang makin tercekik. Para pejabat juga harus ikut prihatin. Tunjangan-tunjangan tak penting sebaiknya dikurangi. Dengan begitu rakyat bisa merasakan langsung adanya aplikasi dari sila kelima. Yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Duduk Di Sampingku

Jum'at 29 Agustus, akan selalu jadi hari bahagia yang akan kuingat selamanya. Penyebabnya sederhana, yaitu kamu yang menghampiriku dan duduk disampingku. Corel draw ternyata anugrah bagi kita. Karena tanpanya aku tak bisa berbicara dan memandangimu dengan leluasa. Tapi ternyata, aku tak sanggup berlama-lama. Aku tak bisa menahan gejolak hatiku dengan kamu tepat disampingku. Aku jadi salah tingkah karena memilih antara bersikap biasa atau mencoba mengirim sinyal cinta. Akhirnya aku memilih pergi dan menenangkan diri. Mungkin ini yang namanya mati gaya. Bingung mau apa dan bagaimana. Aku berharap rasa sukaku padamu tidak terlalu ketara. Dengan begitu aku bisa meminta bantuanmu dengan bebas leluasa. Semua harus seperti biasa dan mengalir apa adanya. Aku tak ingin kamu peka dan dampaknya jadi ada rasa canggung diantara kita. Aku tak ingin itu terjadi, karena dari hati dan logika, itu jauh lebih menyiksa.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Keputusan MK dan Gantengnya Hamdan Zoelfa

Kamis, 21 Agustus kemarin mungkin akan menjadi salah satu hari yang akan selalu di ingat masyarakat Indonesia berpuluh-puluh tahun kedepan. MK, dengan sembilan hakimnya, udah memutuskan kalo Jokowi-JK lah yang memenangkan pilpres. Dan dengan ditolaknya seluruh gugatan Prabowo, maka nggak akan ada PSU apalagi pemilu ulang. Bagi Fadli Zon dkk, gue saranin buat deketin Prabowo. Siapa tau dapet jackpot di lempar Iphone S5 atau Samsung AC+.

Menurut gue, kemarin itu bener-bener hari yang menegangkan sekaligus menakutkan. Temen-temen gue di sekolah pada di himbau sama orang tuanya biar pada pulang secepatnya. Banyak ortu temen-temen gue yang khawatir akan ada demontrasi besar-besaran yang berakhir kerusuhan. Dan bener aja, ketika gue pulang dan nonton tv, hampir semua stasiun tv nayangin aksi-aksi unjuk rasa di seluruh titik di ibukota. Takut juga sih. Tapi yang kayak gini kan adanya cuma lima tahun sekali, jadi ya harus dinikmatin. Mungkin bener kata orang, pilpres 2014 itu unik dan beda. Persaingannya bener-bener ketat sehingga masing-masing pendukung belain jagoannya mati-matian. Tapi syukurnya, sejauh ini suasana tetap tenang dan aman karena kedua pihak menerima keputusan akhir MK dengan baik.

Ketika keputusan MK tentang sengketa pilpres dikeluarin, ada satu hal yang gue sesalin. Bukan terkait siapa yang menang dan jadi presiden, tapi karena gue dan ribuan kaum hawa lain di nusantara dari Sabang sampai Merauke, nggak akan bisa lagi melototin Hamdan Zoelfa, Ketua MK yang ganteng bin kece badai. Alisnya yang tebel dan tatapannya itu lho yang nggak nahan. Pantes aja saksi-saksinya pada grogi, kalo gue sih pasti meleleh diliatin intens gitu sama pak Hakim.

Gara-gara Pak Hamdan Zoelfa yang kece, gue jadi selalu pengen cepet-cepet sampai rumah tiap pulang sekolah. Kan lumayan belajar politik sekalian cuci mata. Awalnya, jujur, gue nganggep Prabowo lebay pake ke MK segala. Tapi ternyata selalu ada hikmah dibalik segala sesuatu, kan. Misteri Tuhan siapa yang tahu. Kalo bukan karena Prabowo, mana mungkin gue tau kalo ternyata Indonesia punya Ketua MK yang ganteng banget. Udah cakep, pinter, berwibawa, bijaksana lagi. Salut deh sama Pak Hakim. Semoga kedepan Pak Ketua MK yang kece badai tetap amanah ya mutusin sengketa-sengketa lainnya. Jangan kayak yang sudah-sudah ya Pak, ujung-ujungnya malah silahturahmi sama Abraham Samad di gedung KPK. Selamat bekerja Pak Hamdan Zoelfa. :)

Jumat, 22 Agustus 2014

Optimisme dan Kenyamanan Kamar

Menjalani hari tanpa kejutan adalah hal yang sangat biasa bagi sebagian orang. Waktu terus berlalu, berjalan dan tak sedikit yang terbuang. Aku sering berfikir, tentang awal dan akhir yang gelap tak terjawab. Mungkinkah sorot lampu pertunjukan kehidupan membuat seseorang  menjadi pemeran utama di opera hidup banyak orang? Seperti yang diketahui, daya pikat optimisme mampu menjadi bahan bakar euforia dan semangat juang meledak-ledak. Memang cenderung mendadak, tapi didalamnya ada esensi pantang menyerah yang terarah. Tetap semangat merupakan ciri khas yang melekat, terlebih jika diimbangi idealisme dalam diri untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti. Aku si Nona Muda kini berada di titik tertinggi percaya diri. Tolong bantu aku melangkah agar tak salah arah. Jika lalai, bantu aku bangun agar tak lalai dan terbuai. Bagaimanapun juga, aku hanyalah Nona Muda yang selalu ingin menciptakan kenyamanan di bilik kamarnya yang sederhana.

Rabu, 20 Agustus 2014

Ingin Jadi Balita

Sebagai remaja pada umumnya, aku tak tahu apakah aku siap menjalani masa depan. Ramalan, tafsiran dan bakat yang belum ditemukan masih menjadi misteri yang pemecahannya belum kuketahui. Pikiranku belum stabil. Aku tak tahu keputusan apa yang sebaiknya kuambil. Pertimbangan saran dan masukan teman mungkin bisa menjadi opsi bagiku untuk mencari identitas diri. Kamu tahu, ketakutan terbesarku adalah hidup sengsara dimasa tua. Dan pengalamanku sejak kecil yang berjibaku dengan hidup  seadanya, tidak membuatku siap untuk kembali menjalaninya. Saat ini, masalah yang paling urgensi untuk kutangani adalah memilih jurusan antara yang ku sukai dan yang sebaiknya ku kuasai. Aku takut kesalahanku memilih jurusan akan menggantungkan masa depanku di tiang kegagalan. Dan berakibat impianku yang masih remang-remang, tiba-tiba suram dan menghilang. Kamu tahu, kegalauanku menjadi remaja membuatku merasa tak ingin menjadi dewasa dan tua. Aku ingin untuk tetap menjadi balita, yang tak perlu cemas dengan masa depannya.

Senin, 18 Agustus 2014

Cinta Yang Sama


For Mr. C,

Tiga tahun ini, aku berada dalam bayang-bayang semu antara harapan dan ketidakpastian. Sesuatu tentang kamu membuatku berkukuh walau rapuh. Aku adalah payung tempatmu berlindung, dan semakin lama citraku tentang kita, semakin gila dan tak ada habisnya. Kamu dan dia adalah suatu kepastian saat ini, walau hatiku mengutuk iri. Aku hanya pengukir mimpi yang takut berimajinasi. Imajinasi yang kelam kala kusadar bahwa bukan akulah tempatmu bersandar. Kita memang tak mungkin bersahabat apalagi lebih dekat. Kamu tahu, bukan karena aku sombong untuk menyapa dan tertawa bersama. Tapi lebih karena aku tak sanggup menciptakan kata yang mampu mengisi ruang antara kita. Biarlah aku menjadi seperti ini, C. Tak ada yang perlu disesali. Biar aku mencintaimu dalam diam dan berharap akan ada suatu keajaiban. Aku tak terlalu berharap cintaku akan berakhir bahagia selamanya seperti dalam romansa. Tapi, kuakui bahwa tak ada yang lebih membuatku bahagia dibanding cinta yang sama dari orang yang dipuja.