Translate

Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2017

Obsession - Jokowi Ahok version



FF atau fanfic ini hanya untuk tujuan hiburan semata. Tidak ada maksud untuk hatespeech terhadap pihak manapun.

Enjoy this fanfiction !!  ^^

Chapter 1 : Coretan selama debat

Seperti Sherlock yang bahagia menjadi high functioning sociopath, Ahok juga memiliki alasan untuk memilih menikmati apa saja yang terjadi saat ini. Dia sangat bahagia jika ada yang bertanya tentang keadaannya. Kasus ini, sekuat apapun mereka mencoba, mereka terlihat tak akan bisa menjatuhkan atau melemahkan semangatnya menjadi Gubernur DKI Jakarta lagi untuk lima tahun ke depan. Dia tidak terlalu peduli dengan uang atau kekuasaan yang dimiliki dengan posisi seorang kepala daerah Ibukota Negara. Bagi seorang Ahok, yang terpenting baginya dengan memenangkan pilkada ini adalah, dengan menjadi seorang gubernur, dia selalu bisa dekat dengan Joko Widodo. Karena dulu dia telah membuat janji dan dia akan menepatinya apapun yang terjadi.

Ahok PoV
13 Januari 2017
Mungkin kalian akan bilang aku sombong kalau aku berkata debat mungkin adalah keahlianku, selain marah-marah tentunya. Tapi marah mungkin lebih tepat didefinisikan sebagai hobi ketimbang keahlian sebenarnya. Hobi yang menyusahkan kalau boleh dibilang. Bagaimana tidak? Karena hobiku ini, mungkin ada ratusan orang yang sakit hati padaku dan mendoakanku agar kalah di pilkada maupun di pengadilan.

Aku tidak masalah dengan hal itu karena jujur saja, aku pernah mengalami hal yang lebih buruk ketimbang hanya sekedar doa dan sumpah serapah. Bayangkan saja jika kalian berada di teras depan rumah dan kalian menemukan surat kaleng berisi segala macam barang aneh dan selembar kertas berisi ancaman akan disantet. Kalau kalian menganggap itu mengerikan, kalian harus memberi applause kepadaku. Karena, ya, itu adalah hal yang kualami dulu saat hendak menjabat sebagai bupati Belitung Timur.

Jadi bisa dikatakan aku ini sudah hampir kebal dengan berbagai macam serangan verbal dan hal-hal klenik seperti perdukunan. Bukan karena Ahok sakti, punya dukun jago atau khatam ilmu kebal. Aku nggak pernah belajar hal-hal seperti itu. Kuncinya sebenarnya satu aja. Eh dua deh. Satu kan punya sebelah. Pertama, percaya kalau Tuhan pasti selalu melindungi kita dari segala niat dan perbuatan buruk. Kita pegang ini aja, percaya deh, sebanyak apapun orang yang ingin menjatuhkan kita, kita pasti akan selamat. Dan yang kedua adalah selalu ingat dengan tujuan. Dalam hal ini adalah untuk apa tujuan saya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sayangnya aku tidak melihat kehadiran orang yang menjadi tujuanku terjun ke dunia politik selama debat kali ini. Aku sudah mencarinya sejak aku dan yang lain akan berangkat menuju tempat acara. Saat acara debat berlangsung pun mataku tidak berhenti melihat ke arah pintu masuk menunggu kedatangannya.

Aku mengerti bahwa dia adalah seorang Presiden yang selalu sibuk dengan urusan kenegaraan. Tapi aku hanya meminta sedikit saja waktunya. Lima menit bahkan lebih dari cukup baginya untuk hadir dan mengucapkan semangat berjuang.

Kalian mungkin berpikir hubunganku dengan Joko Widodo hanya sekedar hubungan antara politisi atau hubungan antar Gubernur dan Wakilnya. Media hanya merekam pertemuan pertama kami lima tahun lalu saat kami hendak maju Pilkada Jakarta. Tapi kedekatan kami yang sebenarnya, pertemuan awal kami yang sesungguhnya, sudah berlangsung sejak lama. Dan hal itulah yang membuatku di debat pertama Pilkada hari ini kesal sekali sejak tadi. Kesal padanya karena ketidakhadirannya. Dan kesal pada diriku sendiri karena selalu setia menunggunya.

Dan akibatnya, hampir saja emosiku meledak saat dipanggung ini. Aku bersyukur masih bisa meredamnya walaupun tidak sepenuhnya. Well, jangan menganggap aku mencoba menyerang Pak Anies atau semacamnya. Aku hanya mencoba berbicara saat giliranku dan jujur saja, aku tidak begitu peduli apa yang paslon lain katakan. Saat itu aku sedang mencoba meredakan kekesalanku dengan tidak melampiaskannya lewat sindiran ataupun kata-kata sinis pada paslon lain. Karena timsesku mungkin akan bekerja ekstra keras jika itu terjadi. Tapi apa mau di kata, saat paslon satu menyebut kartu-kartu, aku kembali teringat kekesalanku padanya. 

Aku menulis banyak catatan saat debat. Dan kebanyakan adalah segalanya tentang dia seperti dosen, kanada, dan melupakan janji. Pak Djarot melihat apa yang aku tulis dan aku memperhatikan wajahnya yang sedikit bingung. Dia jelas tidak tahu apa artinya karena mimik wajahnya sangat jujur memperlihatkan ketidaktahuaannya. Aku beruntung dia tidak bertanya lebih lanjut karena aku pun tidak tertarik menjelaskannya pada siapapun. Tapi jujur saja, aku agak geli melihat ekspresinya itu. Untung aku berhasil menahan diri untuk tidak tertawa dan hanya mengeluarkan senyum simpul sebagai gantinya. 

Dan aku bersyukur dengan peraturan debat melarang kamera menyorot apa saja yang para paslon tulis. Paslon lain pun aku yakin juga lega dengan adanya peraturan itu karena akan sangat memalukan baginya saat masyarakat mengetahui visi misi hanya berupa hafalan yang perlu ‘contekan’ untuk menjelaskannya. Aku sendiri tidak terlalu mempersiapkan diri dengan debat ini. Make it flow saja. Aku hanya akan mengatakan apa yang sudah dan apa yang akan aku lakukan kedepan. Karena itu, aku juga tidak terlalu masalah jika catatanku saat debat disorot kamera. Karena coret-coretan yang yang ku buat saat itu hanya tentang dia dan masa lalu kita.

Minggu, 01 Maret 2015

Fanfic : Don't Leave Me Again, Kim Woo Bin Chapter 3


Disclaimer :
Cerita ini hanya fiktif belaka. Penulis hanya melakukannya untuk have fun saja dan tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari fanfic ini. Mohon maaf bila ada typo.So, Enjoy it~~ ^^

Warning! Boys x boys, yaoi, bromance, fujoshi

Jongbin, woosuk couple.

Cast :
Selain Kim Woobin dan Lee Jongsuk, author kasih kebebasan pembaca untuk berimajinasi tokoh-tokoh yang ada.

Happy reading this fanfiction ! :)

Previous Chapter :

Hyung..

Sambungan telepon terputus.

Jongsuk melemparkan ponselnya sembarangan ke tempat tidur lalu membantingkan tubuhnya ke kasur yang empuk. Matanya terpejam. Hari ini sangat melelahkan buat Lee Jongsuk.

"Kau benar-benar bajingan, Kim Woobin."

***

Jongsuk bangun pagi sekitar pukul setengah 8 dengan wajah kaget. Dia ingat kalau Managernya akan segera datang. Karena tak ingin kena omelan dipagi hari, Jongsuk buru-buru bergegas mandi.

"Sekya, packing!" Dalam hati dia mengumpat karena ketiduran semalam sehingga tidak merapikan apapun. Dengan terburu-buru dia merapikan semua baju-baju dan sepatunya dalam koper. Tapi karena berantakan, koper itu tidak mampu memuat semuanya. Terpaksa, Jongsuk membongkarnya lagi dan memasukkannya perlahan.

Belum selesai berbenah, Managernya sudah keburu datang. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Jongsuk yang baru mem-packing barangnya sekarang.

Jongsuk hanya bisa nyengir polos.

"Makanlah. Biar aku lanjutkan." kata Managernya pada Jongsuk. Tangannya meraih salah satu baju Jongsuk.

Jongsuk menolak. Dia tak beranjak dan memilih melanjutkan aktivitasnya. "Kau tak perlu melakukan itu lagi, hyung. Aku sudah dewasa sekarang. Biar aku sendiri yang melakukannya."

"Apakah Woobin membalas pukulanmu dan membuat kepalamu terbentur?" tanya Manager Go takjub. "Aku harus mentraktirnya ramen nanti. Aku harap dia juga membuatmu melupakan keinginanmu."

Jongsuk melempar bajunya kesal.

"Aku serius, hyung.." katanya sambil mendesah pasrah.

Manager Go tertawa.

"Hei, kau pikir ini gratis! Kau harus tahu kalau aku hanya melakukan tugasku saja. Karena apapun keputusanmu nanti,  apapun itu gajiku bulan ini merupakan hasil kerja kerasmu. Jangan besar kepala."

Jongsuk mengangguk-ngangguk sambil nyengir.

"Kau terdengar seperti tak mau kehilanganku, hyung." kata Jongsuk sambil menyipitkan mata menggoda.

Manager Go terlihat kelabakan menjawab.

Jongsuk yang tersenyum langsung memeluk erat Managernya.

"Aku menyayangimu, hyung."

Manager Go Jung Kyo terbatuk-batuk saking eratnya pelukan Jongsuk. "Hei bodoh, lepaskan. Kau ingin membunuhku rupanya. Lepaskan. Lepaskan!"

Jongsuk lepaskan pelukannya pada Manager Go.

"Aku akan sangat merindukanmu, hyung."

"Karena itu jangan melakukannya."

Jongsuk tersenyum sedih. "Aku akan memikirkannya."

***

Kim Woobin terlihat sangat sibuk menata roti-roti beraneka rasa ke dalam etalase-etalase di Kedai Roti Jjang. Sambil melayani pembeli, Woobin sesekali mengecek adonan rotinya di oven. Roti-roti yang sedang mengembang sempurna itu, tak jarang membuat pengunjung yang datang menghirup napas dalam-dalam. Harum sekali.

Hari ini, Kakek Go dan Woobin mendapat banyak sekali pesanan roti dari keluarga Dae Hong yang akan mengadakan semacam perkumpulan warga dirumahnya nanti malam. Woobin sempat bertanya tentang hal apa yang dibicarakan pada ayah Dr. Kang Min Ra saat datang membeli beberapa pie strawberry. Tapi ahjussi itu menjawab kalau mungkin Dae Hong hanya ingin beramah-tamah. Woobin pun tak bertanya lagi.

Selain pesanan itu, Kakek Go dan Woobin disibukkan oleh pengunjung yang datang seolah tak ada habisnya. Pengunjung-pengunjung itu datang seolah mereka wajib memakan roti pagi ini. Kakek Go bahkan sempat meyakinkan Woobin kalau hari ini adalah Hari Roti Nasional. Tapi Woobin tak percaya ada hari seperti itu di Korea.

Setelah melayani seorang gadis yang membeli dua roti dengan ektra keju dan satu topping mocca, Woobin menghela napas. Kedai itu sepi tak ada pengunjung. Woobin memanfaatkannya dengan mengambil beberapa jenis roti yang baru Kakek Go panggang kedalam etalase kaca.

Saat Woobin di dapur, tiba-tiba lonceng dipintu masuk berbunyi.

"Ada pelanggan" kata Kakek Go. Woobin cepat-cepat berlari menyambut. Begitu sampai kedai, dia melihat kakak angkatnya yang tersenyum di samping Lee Jong suk.

"Hyung-nim.." seru Woobin senang. "Kau pulang? Kau ingin bertemu Kakek?"

Go Jung Kyo menjawab singkat. "Adakah dia?"

Woobin mengangguk semangat. "Tentu, akan kupanggilkan."

Woobin berlari menemui Kakek Go yang sedang menata cerry di atas krim roti. Saking senangnya anaknya datang, Kakek Go tak sengaja meletakkan tangannya di atas roti yang penuh krim. Alhasil, roti itu pun rusak tak berbentuk. Buru-buru Kakek Go mengelap krim roti ditangannya dengan lap yang diberi Woobin dan menemui anaknya di dalam kedai.

Go Jung Kyo sangat senang melihat ayahnya yang datang langsung memeluknya. "Appa, aku kangen appa."

Kakek Go terlihat menangis. "Jung Kyo, appa lebih merindukanmu. Kau baik-baik saja kan? Oh tidak, kau kurus sekali nak. Pekerjaanmu pasti membuatmu makan dengan buruk. Menetaplah sebentar. Aku bertaruh, aku pasti mampu membuat tubuhmu lebih berisi." katanya sambil memperhatikan tubuh Jung Kyo prihatin.

Jung Kyo tertawa sambil mengelap air matanya. Dia memeluk ayahnya sekali lagi.

"Appa, apa kau lupa tentang 'menjadi seorang pria sejati'? Setahun lalu kau bilang aku harus menguruskan badan dan berlatih judo dengan keras ketika aku kalah bertarung dengan Woobin. Kenapa kini kau berubah pikiran?"

Kakek Go memukul kepala Jung Kyo. Jung Kyo mengeluh kesakitan.

"Kau ini, selain lemah ternyata kau benar-benar anak kurang ajar."

Jung Kyo menggurutu. Dia bilang kalau mungkin saja dia yang sebenarnya anak angkat.

Kakek Go melihat Jongsuk dengan tajam. Jongsuk terlihat salah tingkah sendiri. Dia mengingat wajah shock kakek Go ketika dia meninju Woobin kemarin. Dengan ragu-ragu dia mencoba tersenyum ramah.

"Eh, Kek.." katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Soal kemarin, aku... Woobin..."

Kakek Go tersenyum. "Kau pasti mau bilang kau dan Woobin hanya salah paham kan? Woobin sudah menceritakan semua. Tenang saja, dia bilang dia yang akan membayar hutangnya. Kalau pun tidak, aku bisa membayarnya saat ini. Kurasa jumlahnya tidak banyak."

Jongsuk mendengar Kakek Go dengan tatapan heran. Dia hanya mengangguk-angguk mengiyakan perkataan Kakek Go yang menyuruhnya memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah sambil sesekali menatap Woobin.

***

Kim Woobin menghela napas panjang. Lelah sekali memindahkan barang-barang Jongsuk yang sangat banyak itu dari mobil pengangkut ke kamarnya di lantai atas. Semua sepatu dan baju-baju itu bahkan membutuhkan sepuluh kali balik untuk memindahkannya. Saking banyaknya barang-barang bawaan Jongsuk, Woobin sempat berpikir kalau mungkin jumlah barang Jongsuk lebih banyak dari gabungan seluruh warga didesa ini.

Woobin menggerutu kesal pada Jongsuk. Jongsuk sendiripun terlihat sama lelahnya dengan dirinya.

"Hei, apa kau gila? Mengapa kau membawa barang sebanyak ini? Kau hanya beberapa bulan disini. Tapi dari banyaknya baju-baju yang kau bawa, orang pasti akan berpikir kalau kau akan tinggal selamanya."

Woobin menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok. Kepalanya menengadah mencoba menghilangkan rasa lelah. Jongsuk melakukan hal yang sama. Tatapan matanya tak lepas dari wajah Woobin.

"Pembohong!" kata Jongsuk tiba-tiba. Woobin menoleh bingung.

"Kau bicara padaku?"

"Kau lihat orang lain disini?" kata Jongsuk ketus.

"Apa maksudmu berkata begitu?" tanya Woobin heran. Woobin mengingat sejenak lalu menepuk keningnya pelan. "Oke, aku minta maaf."

Jongsuk menatap Woobin. "Kau tahu apa kesalahanmu?"

Woobin mengangguk. "Pasti tentang hutangku kan? Memang aku berjanji akan membayarnya sebulan setelah aku meminjamnya. Tapi kau tahu kalau kita tidak bertemu sesudahnya. Setelah sekian tahun, aku minta maaf kalau aku melupakannya..."

Woobin yang masih terus berbicara berhenti ketika melihat pandangan mata Jongsuk yang berubah kosong.

"Aku tak peduli dengan uang itu, brengsek."

Woobin semakin bingung.

Jongsuk menatap Woobin dalam dengan pandangan terluka.

"Kau dulu berjanji padaku. Aku melalui banyak hal sulit tapi tak pernah sedikitpun aku melupakan janji itu. Kau begitu tulus dan bersungguh-sungguh ketika mengatakannya saat itu. Apa kau mengingatnya?"

Woobin merasa bersalah, dia tak mengingat sedikitpun tentang janjinya. "Minhae.."

"Sudahlah, aku tahu akan seperti ini..."

Jongsuk bangun  berdiri. "Terima kasih karena membantuku tadi." katanya tanpa menoleh. "Dan Woobin, jangan bicara padaku sebelum kau mengingat janji itu."

Dia pun berjalan memunggungi Woobin yang masih tertegun.

***

(to be continued)

Leave comment please :-)

Rabu, 18 Februari 2015

Fanfic : Don't Leave Me Again, Kim Woo Bin Chapter 2

Disclaimer :
Cerita ini hanya fiktif belaka. Penulis hanya melakukannya untuk have fun saja dan tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari fanfic ini. Mohon maaf bila ada typo.So, Enjoy it~~ ^^

Warning! Boys x boys, yaoi, bromance, fujoshi

Jongbin, woosuk couple.

Cast :
Selain Kim Woobin dan Lee Jongsuk, author kasih kebebasan pembaca untuk berimajinasi tokoh-tokoh yang ada.

Happy reading this fanfiction ! :)

Previous Chapter :

Jongsuk mendekati etalase Roti Mocca Topping dengan pandangan lemah. Dengan wajah sedih, dia menundukkan kepalanya.

"Kau dimana?" bisiknya pelan.

"Aku merindukanmu."

***

Di ruang UGD rumah sakit Dr. Kang Min Ra dan Dr. Park Jo Hyung sedang bahu-membahu memeriksa salah satu pasien kecelakan yang terluka cukup parah. Tak lama, mereka berdua keluar bersama.

"Kau benar-benar hebat tadi Dr. Park dengan menutup aliran darahnya." puji Dr. Kang dengan menunjukan kedua jempolnya.

Dr. Park hanya memandangnya datar. "Kini kau yang ambil alih. Cek pasien itu tiap jam. Beri dia sesuatu agar darahnya di otaknya tak menggumpal. Kau mengerti kan?" lalu melangkah pergi.

Dr. Kang mengumpat kasar. Dia benar-benar kesal dengan rekannya itu.

"Hah, dia pikir aku bodoh. Dan bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih karena pujianku atau apapun. Dia pikir dia keren? Dasar cowok menyebalkan!" Dr. Kang melangkah melewati koridor yang berlawanan.

***

Lee Jongsuk yang sedang melihat-lihat dikejutkan dengan suara seseorang dari luar.

"Kek, aku pulang.."

Terdengar suara lonceng ketika orang tersebut membuka pintu.

Jongsuk berbalik dan bersiap menyambutnya dengan senyuman. Tapi senyuman itu langsung hilang ketika melihat orang yang ada didepannya.

Orang didepannya tak kalah kaget melihat seseorang yang kini menatapnya. Tapi tak lama ia tersenyum lalu tertawa senang, menjatuhkan barang bawaanya.

"Lee Jongsuk! Benarkah kau Lee Jongsuk temanku? Jongsuk-ah, aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini." kata Kim Woobin sambil memeluk Jongsuk erat lalu melepaskannya.

Melihat Jongsuk yang hanya terdiam, Woobin jadi heran. "Jongsuk-ah, apa kau tak senang bertemu denganku? Atau, apa kau mungkin melupakanku? Hell, kau jahat sekali."

Woobin mencoba bercanda. Jongsuk menatapnya bingung. Woobin pikir Jongsuk kebingungan mengingat namanya.

"Kau benar-benar melupakanku rupanya." Woobin menggeleng-gelengkan kepala seolah merasa tersakiti. "Baiklah, ayo kita mulai dari awal."

Woobin tersenyum. Tangannya mengambil tangan Jongsuk dan mengajaknya bersalaman.

"Kenalkan, aku Kim Woobin. Kita dulu teman satu SMP dan kau dulu adalah kakak kelasku. Kau pasti mengingatnya kan?"

Jongsuk tidak menjawab.

"Apa kau disini selama ini?" tanya Jongsuk.

Woobin bingung. "Ya, tentu saja."

"Apa kau memperoleh banyak informasi disini?"

"Tidak, bagaimana mungkin aku mendapatkan banyak informasi.  Orang-orang disini bahkan tidak ada yang punya televisi."

Jongsuk tersenyum tipis.

"Jadi kau tidak melihatku selama ini?"

Woobin tertawa. "Apa kau mencoba pamer padaku? Tidak, karena satu hal aku sempat melihatmu ditelevisi. Kau sudah menjadi aktor hebat rupanya." kata Woobin sambil menepuk-nepuk pundak Jongsuk.

Senyum diwajah Jongsuk langsung pudar. Dia menatap Woobin dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Seperti sedih, marah, dan kecewa yang menjadi satu.

Woobin sendiri bingung tak tahu berbuat apa melihat reaksi Jongsuk.

***

Seorang ahjumma bernama Dae Hong terlihat mencoba mendatangi ahjumma-ahjumma lain yang sedang berkumpul.

"Apa kalian bertemu seorang pemuda bertumbuh tinggi dan kurus tadi." kata Dae Hong mengawali perbincangan.

"Ya, tadi dia ingin menanyakan alamat padaku. Tapi aku menatapnya tajam. Memang siapa dia Dae Hong? Apa kau mengenalnya?" kata seorang ahjumma bertubuh gendut. Ahjumma-ahjumma lain berseru penasaran.

Dae Hong tersenyum sinis, "Dia adalah tamu si kakek gendut, Go Myung Woo. Kalian tahu apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengusirnya!"

"Tapi Dae Hong, bagaimana kalau dia hanya pelanggan roti atau kerabat yang tinggal sementara? Tentu akan berlebihan kalau kita mengusirnya saat ini. " kata ahjumma yang satu lagi. Ahjumma-ahjumma lain tampak menjadi ragu.

"Jangan khawatir. Aku sudah menyelidikinya. Pemuda itu memang berniat tinggal disini untuk waktu lama. Dan kalian tahu peraturannya dan akibatnya jika itu dilanggar. Kita harus segera mengusirnya!"

Ahjumma-ahjumma itu bersahutan menyetujui.

***

Kakek Go datang kembali menemui Jongsuk. Dia tersenyum ketika dia juga melihat Woobin.

"Ah, kalian sudah bertemu?"

Jongsuk dan Woobin sontak menengok ke arah Kakek Go.

"Kek, apakah anak angkat yang kau maksud adalah dia?" tanya Jongsuk penasaran. Woobin mengernyit.

Kakek tertawa, "Kalian sudah saling berkenalan ya? Tentu saja, dia anak angkatku. Tampan bukan?"

Giliran Woobin bertanya.

"Kek, apa yang dia lakukan disini? Apa kau mengangkat anak lagi?" tanyanya sambil memasang wajah kesal.

Belum sempat Kakek Go menjawab. Jongsuk langsung meninju keras wajah Kim Woobin. Gerakannya yang sangat cepat membuat Kim Woobin tak sempat menghindar.

Kakek Go terlihat sangat shock. Sambil memegang sisi wajahnya, Kim Woobin menatap Jongsuk tidak percaya.

Jongsuk menatap Woobin marah.

"Aku membencimu." katanya sambil berlalu pergi.

***

Dr. Kang Min Ra baru saja pulang dari tempat kerjanya melihat Dae Hong dan beberapa ahjumma yang yang terlihat pulang dari rumahnya. Dia melihat ayahnya yang duduk diteras depan.

"Appa, untuk apa mereka datang ke sini?" tanya Min Ra penasaran.

"Mereka hanya meminta pendapatku saja." katanya sambil tersenyum. "Kau baru pulang? Apa hari ini melelahkan?"

Min Ra langsung menceritakan semua yang dilaluinya hari ini. Operasi yang sukses, pasien yang aneh, dan Dr. Park yang masih saja bersikap sok keren.

Ayahnya tertawa mendengar cerita Min Ra.

"Apa kau yakin kau tidak menyukainya?" ledek ayahnya.

"Tidak, tentu tidak.."

Ayahnya tersenyum tak percaya.

Min Ra memukul bantal ke ayahnya dan ayahnya pura-pura meringis kesakitan. "Sekarang aku tahu kenapa dia menjauhimu. Kau benar-benar kuat, Min Ra. Sama seperti ibumu."

Air muka Min Ra langsung berubah sedih. "Appa, apa kau juga merindukannya?"

***

Ketika Jongsuk sampai di apartemennya, dia langsung bergegas mandi. Saat itu, dia memikirkan semua yang dialaminya tadi. Termasuk pertemuaannya dengan Woobin, sahabatnya saat SMP dahulu.

Setelah mandi, ponselnya berdering.

Dari Managernya.

Ya, hyung..

Kenapa kau memukulnya? Ingat, apapun alasanmu. Kau akan tetap kerumah ayahku!

Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau anak angkat ayahmu bernama Kim Woobin?

Memangnya kenapa? Kau tak pernah bertanya sebelumnya. Lagipula, apa itu penting? Apa kau mengenalnya sebelum ini?

Ya, dia teman lamaku. Lebih tepatnya dia adik kelasku dulu.

Bukankah itu bagus? Kalian seharusnya cepat akrab. Besok aku akan ke apartemenmu jam 8. Aku akan  membantumu memindahkan barang. Bersiap-siaplah.

Tapi, hyung. Apa kau tidak penasaran kenapa aku memukulnya?

Ckck. Itu semua sudah jelas. Kau sunbae yang buruk, Jongsuk. Sampai jumpa besok.

Hyung..

Sambungan telepon terputus.

Jongsuk melemparkan ponselnya sembarangan ke tempat tidur lalu membantingkan tubuhnya ke kasur yang empuk. Matanya terpejam. Hari ini sangat melelahkan buat Lee Jongsuk.

"Kau benar-benar bajingan, Kim Woobin." gumamnya pelan. Matanya terlihat merenung sejenak tangan memeluk erat sebuah miniatur meja berbentuk kue. Tak lama, dengkuran halus pun terdengar pertanda Jongsuk telah tertidur.

***

(to be continued)

Leave comment please :-)

Senin, 02 Februari 2015

Fanfic : Don't Leave Me Again, Kim Woobin

Disclaimer :
Cerita ini hanya fiktif belaka. Penulis hanya melakukannya untuk have fun saja dan tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari fanfic ini. Mohon maaf bila ada typo.So, Enjoy it~~ ^^

Warning! Boys x boys, yaoi, bromance, fujoshi

Jongbin, woosuk couple.

Cast :
Selain Kim Woobin dan Lee Jongsuk, author kasih kebebasan pembaca untuk berimajinasi tokoh-tokoh yang ada.

Happy reading this fanfiction ! :)

Disuatu daerah pinggiran kota Gyunggi, terdapat sebuah pedesaan terpencil yang hampir semuanya berbentuk rumah sederhana yang serupa. Di ujung jalan, terlihat seorang namja bertubuh tinggi dengan dengan kertas ditanganya. Matanya bergantian melihat ke arah kertas lalu ke deretan rumah-rumah sederhana yang ada. Dia sedang mencari alamat.

"Dimanakah alamat ini sebenarnya? Rumah disini terlihat sama satu sama lain. Apa aku hanya berputar-putar saja sejak tadi?" gumamya sambil mendesah lelah. Dia melanjutkan aktivitasnya sampai hanya tinggal tiga rumah lagi yang tersisa.

Perkenalkan, pemuda yang dimaksud sejak tadi adalah Lee Jongsuk. Dia berusia 22 tahun dengan tubuh tinggi dan kurus. Wajahnya sangat bersih dan tampan seperti seorang model.

Pemuda itu beberapa kali bertemu dengan warga sekitar. Tapi setiap kali melihatnya, orang-orang yang ditemuinya selalu menatapnya sinis dan menyuruhnya cepat pergi. Jongsuk semakin bingung dengan sikap warga ditempat itu. Dia jadi ragu kalau dia berada di tempat yang benar.

Ketika Jongsuk hendak mengecek alamat yang dia punya ke salah satu rumah, mendadak muncul seorang wanita muda berpakaian rapi dari dalam rumah itu. Jongsuk kaget, begitu juga si wanita.

"Apa yang kau lakukan?" kata si wanita sambil melotot ke arah Jongsuk. "Apakah kau pencuri?" katanya curiga. Buru-buru dia mendekap erat tasnya.

"Uhm, maaf noona. Saya bukan pencuri."Jongsuk mencoba mengendalikan diri. "Saya hanya ingin memastikan apakah ini benar Chaedonghee No. 9. Saya sedang mencari alamat ini."

Si wanita muda menyipitkan mata. "Apa aku terlihat bodoh? Kau pikir aku akan percaya? Hell, aku Kang Min Ra seorang dokter yang hebat. Sekali kau mendekat, aku akan berteriak keras dan warga akan segera berdatangan. Ketika mereka berhasil menangkapmu, aku bersumpah akan memutuskan aliran darahmu. Jadi jangan coba-coba mendekat!"

Jongsuk mendesah.

"Dia benar-benar gila." kata Jongsuk memutuskan untuk pergi. Min Ra yang melihatnya, langsung menghadangnya.

"Jadi kau bukan pencuri?" tanya Min Ra. Tatapannya masih penuh selidik. Jongsuk yang malas menjawab mengabaikan begitu saja sambil berjalan pergi.

"Belok kanan, Kedai Roti Jjang milik Kakek Go." kata Min Ra tiba-tiba.

Jongsuk terdiam.

"Itu alamat yang kau cari."

Min Ra lalu mengambil tasnya lalu berjalan pergi mengendarai mobil meninggalkan Jongsuk. Jongsuk hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, "Apa aku bisa tinggal ditempat ini?" katanya sambil memandang sekeliling.

***

Turun dari mobil, Min Ra berjalan kaki dengan cepat menuju tempat kerjanya. Kakinya berulang kali terserimpet karena dia jalan dengan tidak fokus. Pikirannya mengingat saat pertemuaannya dengan pemuda tadi.

Memalukan!

Memalukan!

Memalukan!

Hanya itu yang ada dipikiran Min Ra.

"Aku benar-benar bersikap bodoh tadi karena menuduh orang sembarangan kalau dia pencuri." katanya sambil menutup wajahnya. "Semoga dia cepat pergi. Orang-orang disini tak akan menyukai kedatangannya."

Sambil berkata begitu, wajahnya berubah sedih.

***

Lee Jongsuk telah sampai ke Kedai Roti Jjang, tempat yang dimaksud Dr. Kang tadi. Bangunan di hadapannya memiliki design kedai modern sederhana seperti di Kota Seoul pada umumnya. Namun terlihat sudah nampak tua di beberapa sisi, tapi nampak kuno dan kokoh secara bersamaan.

Jongsuk masuk ke dalam kedai. Terdengar bunyi lonceng ketika dia mendorong pintu masuknya. Ketika sudah masuk, Jongsuk langsung mencium aroma roti yang sepertinya baru matang. Dia lalu mengitarkan pandangannya dan melihat roti-roti yang sangat lezat di depannya. Jongsuk tersenyum senang.

Tak lama, datang Kakek Go Myung Woo, sang pemilik kedai. Dia kakek gemuk yang mempunyai mata yang berbinar. Begitu melihat Jongsuk, dia langsung tersenyum ramah.

"Hei, nak. Apa kau ingin membeli sesuatu? Aku punya roti-roti yang sangat lezat disini." katanya menawarkan.

Jongsuk tertawa.

"Kek, apakah benar ini Chaedonghee No. 9? Aku tak menyangka kalau ini adalah kedai roti. Jadi kau Kakek Go Myung Woo?"

Kakek mengangguk. "Kau benar, nak. Aku Kakek Go Myung Woo. Astaga, apa kau Lee Jongsuk?" kata Kakek Go kaget. "Jadi denganmu anakku bekerja?"

Jongsuk tersenyum.

Kakek Go menatap Jongsuk keseluruhan dari atas ke bawah. "Anakku selalu berbicara tentangmu. Dia bilang kau sangat tinggi seperti jerapah. Kupikir dia membual. Tapi setelah melihatmu, aku rasa dia tidak berlebihan. Dan selain tinggi, kau juga sangat tampan."

Jongsuk tertawa, "Aku baru tahu kalau Manager Go berkata seperti itu pada semua orang."

"Aku tahu kalau aku punya anak yang sangat kurang ajar."

Mereka berdua tertawa bersama.

Jongsuk berhenti tertawa ketika dia melihat tulisan yang terpampang pada etalase.

'Mocca Toping' bisik Jongsuk perlahan.

Kakek Go tersenyum melihat Jongsuk menatap intens roti mocca-nya. "Omo, aku bodoh sekali. Kau baru tiba setelah perjalanan jauh. Harusnya aku menyiapkan sesuatu."

Dia pikir Jongsuk lapar dan ingin makan roti mocca itu.

"Jongsuk-ssi, tunggu sebentar. Kau bisa duduk dan melihat-lihat. Ambil yang kau suka. Mengerti?" katanya sambil mengedipkan mata.

Jongsuk mengangguk.

"Dan segeralah bawa barang-barangmu kesini. Kau pasti akan betah berada disini. Jung Kyo pasti sudah bercerita kalau dia punya adik angkat kan? Dia seumuran denganmu, kurasa kalian akan cepat akrab." Kakek Go berlalu masuk ke dalam.

Jongsuk mendekati etalase Roti Mocca Topping dengan pandangan lemah. Dengan wajah sedih, dia menundukkan kepalanya.

"Kau dimana?" bisiknya pelan.

"Aku merindukanmu."

***

(to be continued)

Leave comment please :-)

Rabu, 10 September 2014

Ahok : Jokowi, Kamu Berbeda

Not disclaimer. Penulis tidak menerima apapun dari penulisan fanfiction ini Mohon maaf jika pihak yang terkait dalam cerita ini merasa kurang berkenan. Ini hanya sekedar untuk have fun aja. Please enjoy :-)

Ahok's POV

Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, aku menyaksikan si bajingan itu berkoar-koar menantangku didepan televisi. Iya, ia hanya bajingan yang hanya menginginkan kekuasaan mutlak. Orang-orang munafik bermuka santun tapi sebenarnya pencuri berkedok wakil rakyat.

Aku muak dengan semua manuver-manuver partai Koalisi Merah Putih yang mencoba menghalalkan segala cara untuk menuntaskan dendam mereka atas kekalahan pilpres kemarin. Aku geram melihat mereka yang berusaha setengah mati menjatuhkan teman sekaligus bosku, Pak Jokowi. Harusnya mereka berfikir kalau kekalahan mereka itu karena ulah mereka sendiri. Aku sudah memperingatkan mereka untuk tak menyerang Pak Jokowi dengan black champaign yang membabi buta. Aku paham betul kalau black champaign pada akhirnya hanya akan menimbulkan simpati dari rakyat untuk lawan. Dan lihat saja, aku benar sepenuhnya.

***
Normal POV

Mata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyipit geram, "Oke, kalo itu yang kalian mau. Gue bakal turutin. Gue urus semuanya besok."

Ahok bangun dari tempat duduknya. Dia melirik jam tangannya lalu menghampiri ruangan Pak Jokowi di lantai bawah. Dia bertanya pada sekretaris Pak Jokowi kemana Pak Jokowi pergi saat itu. Sekretaris itu menjelaskan keberadaan bosnya. Ahok mengangguk mengerti. Segera dia bersama ajudannya pergi bersama ketempat yang dibilang sekretaris itu.

"Mau kemana Pak kita sekarang?" tanya Ajudan heran. Tidak biasanya si bos pergi di jam kerja. Memang, selama Pak Jokowi cuti kampanye, Pak Ahok jadi sering pergi-pergian. Gantiin beliau blusukkan, katanya, kalau ditanya orang. Tapi, ketika Pak Jokowi kembali lagi menjadi gubernur, Pak Ahok kembali ke habitat awalnya. Beliau lebih suka ndekem dikantor sampai malam daripada keluyuran di jalanan.

Ahok tersentak kaget. " Eh, kita ke daerah Rusun Marunda ya Pak. Saya mau menemui Pak Jokowi." Ajudan Ahok mengangguk mengerti.

Begitu sampai di Rusun Maruda, Ahok menelepon Jokowi. Dia ingin menahan Jokowi agar tidak pergi kemana-mana. Setelah beberapa kali menelpon namun tidak diangkat, Ahok mendesah pasrah. Ini yang Ahok tidak suka dari blusukkan bosnya itu. Beliau jadi sangat sulit dihubungi.

Ahok memutuskan untuk berkeliling mencari Jokowi. Dan itu tidak berlangsung lama. Bosnya tak pernah pergi ke suatu tempat tanpa ratusan bahkan ribuan massa yang mengelilinginya. Dia selalu menjadi magnet orang-orang disekitarnya untuk datang menghampiri.

Dan benar saja, Pak Jokowi kini tengah berada di antara ribuan warga ketika ingin kembali ke mobil dinasnya. Dia terlihat santai dan menikmati keadaan. Beliau terlihat tak peduli dengan udara panas dan tarikan-tarikan warga yang berdesakan mencoba menghampirinya. Dari kejauhan, Ahok tersenyum geli melihat seorang Paspampres berbaju batik kuning yang bersunggut-sunggut mencoba menghalangi seorang ibu-ibu yang mencoba memeluk Jokowi. Sementara itu, seorang anggota paspampres berbaju batik biru lainnya terlihat setengah frustasi menghalangi wartawati cerewet yang mengacungkan alat perekam suara persis didepan mulut Jokowi. Para anggota Paspampres itu terlihat kesal dan lelah. Berbanding terbalik dengan wajah Jokowi yang telihat cerah bersemangat.

Salah satu Anggota Paspampres menujuk keberadaan Ahok kepada Jokowi. Jokowi tersenyum. Dia melambaikan tangannya ke Ahok. Berlari kecil meninggalkan Paspampres yang masih sibuk menghalangi warga dan wartawan yang masih berusaha mengejarnya.

"Eh, ada Pak Ahok. Ada apa Pak Ahok? Bapak pasti pengen blusukkan ya bareng saya" goda Jokowi. Ahok tertawa, " Ga usah lah Pak. Nanti kalo saya kurus mendadak kan repot. Lagian saya kesini nyari bapak bukan mau ikut blusukkan. Saya ingin ketemu bapak, pengen minta pertimbangan."

Jokowi mengernyit sesaat lalu tersenyum. "Yo weis, kita ngobrol di Warung Soto Diafie saja. Kita bisa ngobrol sepuasnya disana." Jokowi merendahkan suaranya, " Bener-bener kita berdua aja loh ya. Tanpa Paspampres." Ahok tertawa geli. "Siap bos!" kata Ahok sambil dengan gestur hormat. Lalu mereka berdua masuk kedalam bersama.

***

Selama di perjalanan, Ahok seringkali tak habis pikir dengan karaker Jokowi yang menurutnya kadang sangat berlainan dengan wajahnya. Dua tahun mengenal Jokowi, Ahok sering dibuat terkejut dengan pola pikir bosnya itu yang suka melawan arus. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Jawa, sudah pasti Jokowi tak bisa lepas dari keramahan dan toto kromo adat jowo. Tapi sebenarnya, dibalik wajah yang menurut Jokowi sendiri 'ndeso dan ndak suka macem-macem' itu, Jokowi merupakan sosok yang tak akan segan mengambil resiko-resiko besar dan terlihat ingin mendobrak kemapanan.

Ahok sering tertawa mendengar ocehan lawan politik Jokowi tentang ketidaktegasan Jokowi selama memimpin DKI. Jokowi mencla-mecle, itu omong kosong! Ahok masih ingat betul keteguhan hati Jokowi memilihnya sebagai pendamping dibanding nama setenar Deddy Mizwar. Ahok maklum dengan sorot mata keraguan dalam diri Bu Mega. Ya, dia tahu dia hanya 'anak baru' dikalangan elite politisi. Tak ada yang mengenal Ahok sebelumnya. Selain itu agama dan etnis menjadi kendala tersendiri. Tak ada yang yang memungkiri kalau Deddy Mizwar dan Ahok seperti beda langit dengan bumi.

Saat itu, Jokowi sudah cukup populer dikalangan warga sebagai walikota Solo yang jujur, sederhana dan mempunyai rekam jejak yang bagus selama tujuh tahun masa kepemimpinannya. Tentu lebih mudah baginya jika menggandeng partner sekaliber Deddy Mizwar. Selain itu,  Ahok pun belum pernah bertemu atau mendengar berita tentang Jokowi sebelumnya. Dan betapa herannya Ahok ketika Jokowi memilihnya, walau pertemuan mereka baru sekejap mata.

Ahok tak pernah menyangka kalau sosok kurus dan kalem yang sedari tadi diam di sudut ruangan di Kebagusan malam itu ternyata terang-terangan memilihnya di hadapan Mega dan Prabowo. Ahok masih ingat dengan wajah Bu Mega yang tercengang, terlebih setelah Jokowi 'mengancam' akan kembali ke Solo jika wagubnya bukan Ahok. Ahok menatap Jokowi, bingung, antara percaya dan tidak percaya. Menjadi wagub di Ibukata? Walau belum tentu terjadi, Ahok tak pernah menyangka kalau dia ada di tangga pertama jalan mewujudkan impiannya.

Bu Mega mencoba membujuk Jokowi untuk berpikir ulang. Jokowi tak bergeming. Prabowo memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, enggan berkomentar lebih lanjut. Suasana yang menegang membuat Ahok salah tingkah. Ahok mencoba membuat kontak mata dengan Jokowi yang tetap tenang. Tapi Jokowi tak memperhatikan. Wajah Jokowi mengeras, menunjukkan kebulatan tekad yang kuat atas keputusannya. Saat itu, Ahok benar-benar terpesona aura kepemimpinan Jokowi. Jokowi seakan menjadi orang yang berbeda dengan walikota lugu yang kemarin mempromosikan mobil Esemka.

Dan selama mereka bersama, Ahok tak pernah bosan melihat sisi-sisi penuh kejutan dari orang kini duduk disampingnya.

***