Translate

Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2017

Obsession - Jokowi Ahok version



FF atau fanfic ini hanya untuk tujuan hiburan semata. Tidak ada maksud untuk hatespeech terhadap pihak manapun.

Enjoy this fanfiction !!  ^^

Chapter 1 : Coretan selama debat

Seperti Sherlock yang bahagia menjadi high functioning sociopath, Ahok juga memiliki alasan untuk memilih menikmati apa saja yang terjadi saat ini. Dia sangat bahagia jika ada yang bertanya tentang keadaannya. Kasus ini, sekuat apapun mereka mencoba, mereka terlihat tak akan bisa menjatuhkan atau melemahkan semangatnya menjadi Gubernur DKI Jakarta lagi untuk lima tahun ke depan. Dia tidak terlalu peduli dengan uang atau kekuasaan yang dimiliki dengan posisi seorang kepala daerah Ibukota Negara. Bagi seorang Ahok, yang terpenting baginya dengan memenangkan pilkada ini adalah, dengan menjadi seorang gubernur, dia selalu bisa dekat dengan Joko Widodo. Karena dulu dia telah membuat janji dan dia akan menepatinya apapun yang terjadi.

Ahok PoV
13 Januari 2017
Mungkin kalian akan bilang aku sombong kalau aku berkata debat mungkin adalah keahlianku, selain marah-marah tentunya. Tapi marah mungkin lebih tepat didefinisikan sebagai hobi ketimbang keahlian sebenarnya. Hobi yang menyusahkan kalau boleh dibilang. Bagaimana tidak? Karena hobiku ini, mungkin ada ratusan orang yang sakit hati padaku dan mendoakanku agar kalah di pilkada maupun di pengadilan.

Aku tidak masalah dengan hal itu karena jujur saja, aku pernah mengalami hal yang lebih buruk ketimbang hanya sekedar doa dan sumpah serapah. Bayangkan saja jika kalian berada di teras depan rumah dan kalian menemukan surat kaleng berisi segala macam barang aneh dan selembar kertas berisi ancaman akan disantet. Kalau kalian menganggap itu mengerikan, kalian harus memberi applause kepadaku. Karena, ya, itu adalah hal yang kualami dulu saat hendak menjabat sebagai bupati Belitung Timur.

Jadi bisa dikatakan aku ini sudah hampir kebal dengan berbagai macam serangan verbal dan hal-hal klenik seperti perdukunan. Bukan karena Ahok sakti, punya dukun jago atau khatam ilmu kebal. Aku nggak pernah belajar hal-hal seperti itu. Kuncinya sebenarnya satu aja. Eh dua deh. Satu kan punya sebelah. Pertama, percaya kalau Tuhan pasti selalu melindungi kita dari segala niat dan perbuatan buruk. Kita pegang ini aja, percaya deh, sebanyak apapun orang yang ingin menjatuhkan kita, kita pasti akan selamat. Dan yang kedua adalah selalu ingat dengan tujuan. Dalam hal ini adalah untuk apa tujuan saya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sayangnya aku tidak melihat kehadiran orang yang menjadi tujuanku terjun ke dunia politik selama debat kali ini. Aku sudah mencarinya sejak aku dan yang lain akan berangkat menuju tempat acara. Saat acara debat berlangsung pun mataku tidak berhenti melihat ke arah pintu masuk menunggu kedatangannya.

Aku mengerti bahwa dia adalah seorang Presiden yang selalu sibuk dengan urusan kenegaraan. Tapi aku hanya meminta sedikit saja waktunya. Lima menit bahkan lebih dari cukup baginya untuk hadir dan mengucapkan semangat berjuang.

Kalian mungkin berpikir hubunganku dengan Joko Widodo hanya sekedar hubungan antara politisi atau hubungan antar Gubernur dan Wakilnya. Media hanya merekam pertemuan pertama kami lima tahun lalu saat kami hendak maju Pilkada Jakarta. Tapi kedekatan kami yang sebenarnya, pertemuan awal kami yang sesungguhnya, sudah berlangsung sejak lama. Dan hal itulah yang membuatku di debat pertama Pilkada hari ini kesal sekali sejak tadi. Kesal padanya karena ketidakhadirannya. Dan kesal pada diriku sendiri karena selalu setia menunggunya.

Dan akibatnya, hampir saja emosiku meledak saat dipanggung ini. Aku bersyukur masih bisa meredamnya walaupun tidak sepenuhnya. Well, jangan menganggap aku mencoba menyerang Pak Anies atau semacamnya. Aku hanya mencoba berbicara saat giliranku dan jujur saja, aku tidak begitu peduli apa yang paslon lain katakan. Saat itu aku sedang mencoba meredakan kekesalanku dengan tidak melampiaskannya lewat sindiran ataupun kata-kata sinis pada paslon lain. Karena timsesku mungkin akan bekerja ekstra keras jika itu terjadi. Tapi apa mau di kata, saat paslon satu menyebut kartu-kartu, aku kembali teringat kekesalanku padanya. 

Aku menulis banyak catatan saat debat. Dan kebanyakan adalah segalanya tentang dia seperti dosen, kanada, dan melupakan janji. Pak Djarot melihat apa yang aku tulis dan aku memperhatikan wajahnya yang sedikit bingung. Dia jelas tidak tahu apa artinya karena mimik wajahnya sangat jujur memperlihatkan ketidaktahuaannya. Aku beruntung dia tidak bertanya lebih lanjut karena aku pun tidak tertarik menjelaskannya pada siapapun. Tapi jujur saja, aku agak geli melihat ekspresinya itu. Untung aku berhasil menahan diri untuk tidak tertawa dan hanya mengeluarkan senyum simpul sebagai gantinya. 

Dan aku bersyukur dengan peraturan debat melarang kamera menyorot apa saja yang para paslon tulis. Paslon lain pun aku yakin juga lega dengan adanya peraturan itu karena akan sangat memalukan baginya saat masyarakat mengetahui visi misi hanya berupa hafalan yang perlu ‘contekan’ untuk menjelaskannya. Aku sendiri tidak terlalu mempersiapkan diri dengan debat ini. Make it flow saja. Aku hanya akan mengatakan apa yang sudah dan apa yang akan aku lakukan kedepan. Karena itu, aku juga tidak terlalu masalah jika catatanku saat debat disorot kamera. Karena coret-coretan yang yang ku buat saat itu hanya tentang dia dan masa lalu kita.

Kamis, 24 September 2015

Alien Ahok

Untuk kebanyakan orang, alien mungkin terbayang sebagai suatu makhluk yang berlendir menjijikkan dengan bola mata yang besar dan penuh kerutan. Berbicara seperti robot dengan dua antena yang panjang, mengisi tubuh dengan listrik, dan berganti kulit. Tapi, hampir semua pecinta drama korea pasti punya pandangan yang berbeda dengan apa yang di sebut alien. Berbadan tegap atletis dengan wajah tampan, cerdas dan keren. Alien di drama korea adalah salah satu ciptaan Tuhan paling indah jika kita membayangkan Kim Soo Hyun.

Saat ini, ada satu alien yang tersisa dibumi. Berbeda dari alien Do Min Joon yang hidup menyendiri, alien ini sangat terkenal. Dia sering menjadi buah bibir di Ibukota dan menjadi subjek paling menarik di Jakarta bagi media. Namanya Basuki Tjahaja Purnama atau sering dipanggil Ahok. Dia lahir di Belitung Timur, pada 29 Juni 1966, empat puluh sembilan tahun yang lalu.

Alien dalam konteks ini artinya adalah sesuatu yang berbeda, unik dan tidak biasa pada umumnya. Tidak bertentangan dengan norma dan sangat dimungkinkan keberadaannya. Memang seringkali menimbulkan perdebatan tapi sangat menarik jika diulas dan menjadi bahan diskusi.

Kemunculan Ahok pertama kali di televisi dimulai sejak dia menjabat sebagai anggota DPR. Namun, tidak semua orang menyadari keberadaannya karena dia belum seterkenal sekarang. Hal itu terus berlanjut. Ahok muncul kembali sebagai calon gubernur Jakarta jalur independen, mengumpulkan KTP untuk pencalonannya, namun gagal karena tidak memenuhi syarat. Dan tentu saja, kemunculannya yang begitu membekas adalah saat dia mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta dan berpasangan dengan Joko Widodo. Dengan dukungan dari koalisi minoritas partai politik di parlemen Kebon Sirih, Jokowi-Ahok berhasil memenangkan pilkada DKI Jakarta tahun 2012 yang berlangsung dua putaran.

Banyak yang menyangsikan bahwa pasangan yang kontras kepribadian ini bisa bertahan lama mengingat track record banyak pemimpin daerah yang berpisah di tengah jalan. Tapi setelah dua tahun, pasangan ini berhasil membuktikan kinerja mereka dan kerjasama yang baik untuk kemajuan Jakarta. Bahkan, setelah Jokowi memindahkan meja kerjanya ke Istana Merdeka, hubungan mereka tetap terjaga dengan baik layaknya seorang sahabat.

Setelah Jokowi pergi, pengangkatannya sebagai gubernur sempat menuai pro dan kontra. Sejumlah pihak secara terang-terangan menolak pengangkatannya dengan berbagai alasan. Mulai dari isu rasial hingga dikatakan tak sesuai konstitusi. Tapi, setelah tarik ulur yang panjang, yang diwarnai demonstasi dan adu mulut di media, Ahok akhirnya dilantik secara langsung oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka.

Berhasil dilantik sebagai gubernur tidak membuat kontroversi Ahok berhenti. Publik kembali menyorotnya ketika dia harus memilih seorang wakil. Partai Gerindra dan PDIP bersikukuh kalau wakil Ahok seharusnya dari pihak mereka. Entah dengan kesepakatan bersama atau tidak, tak lama kemudian diumumkan bahwa Djarot Saiful Hidayat dilantik sebagai wakil Ahok untuk meneruskan jabatannya hingga tahun 2017.

Setelah menjabat selama tiga tahun sebagai pimpinan Ibukota, baik sebagai gubernur atau wakil gubernur Ahok telah beberapa kali mengeluarkan gagasan yang sedikit banyak memunculkan perdebatan. Yang baru-baru ini saja kita bisa lihat sikap Ahok yang cenderung menginginkan adanya lokalisasi pelacuran di Jakarta. Jika dicermati, Ahok  mungkin sebenarnya mempunyai tujuan yang baik untuk kota yang dipimpinnya. Dia beralasan, pelacuran muncul secara alamiah karena karerena sifat dasar dan kebutuhan manusia. Selama manusia masih ada, pelacuran dalam bentuk apapun, akan tetap eksis meskipun semua orang berusaha bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu. Jadi menurut Ahok, daripada membuat pelacuran tidak terkontrol karena keberadaannya yang tersebar dan  tersembunyi. Serta berpotensi besar merugikan kalangan masyarakat yang tidak berdosa, lebih baik dilakukan lokalisasi.

Tapi bagi yang kontra dengan gagasan itu, tentu saja sikap Ahok dianggap sebagai suatu bentuk upaya mendukung kelangsungan prostitusi. Terutama bagi beberapa kelompok dari komunitas agama. Bagi mereka, melakuan lokalisasi mungkin sama saja melakukan prostitusi itu sendiri.

Dalam drama You Who Came From The Stars aka Man From The Stars, Profesor Do Min Joon pernah menjelaskan tentang percobaan Harry Harlow tentang kera yang lebih memilih boneka dengan selimut dibandingkan boneka dengan botol susu. Alasannya sederhana, kera yang memiliki DNA hampir mirip dengan manusia, lebih membutuhkan kehangatan dan kenyamanan. Sama seperti manusia yang membutuhkan kasih sayang dan kepedulian dalam bentuk sentuhan atau dukungan.

Ahok mungkin keras, kaku terhadap peraturan karena ketaatannya pada konstitusi. Tapi, di balik semua itu adalah dia pribadi yang jujur dan humoris. Ahok bukan orang yang tertutup. Dia memberikan kesempatan yang luas bagi setiap orang untuk mengkritisi kebijakannya. Ahok juga tak pernah mempermasalahkan orang-orang yang menghinanya di dunia maya. Semua bebas mengeluarkan pendapat, baik tentang kinerja maupun pribadinya.

Tapi betapa pun cueknya Ahok tentang tanggapan orang tentang dirinya, Ahok tetap membutuhkan orang lain untuk mendukungnya, orang yang selalu mempercayainya.

Dan Ahok menemukan hal itu dalam diri Jokowi. Orang pertama yang memberinya kepercayaan. Kepercayaan yang membuat nyaman, kepercayaan yang membuat berani, kepercayaan yang menjaga kejujuran.

Dari semua orang, mungkin hanya Jokowi yang mendukungnya bertahan menjadi alien, menjaga agar Ahok tetap menjadi Ahok. Bukan Ahok orang yang lembut. Bukan pula Ahok yang gampang kompromi. Tapi Ahok berdedikasi pada tugas. Ahok yang jujur. Dan Ahok yang menjaga amanah.

Jumat, 28 November 2014

Ahok Setia, Jokowi Masih Peduli

Sudah lebih dari seminggu Basuki Tjahaja Purnama dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta ke-16 periode 2014-2017. Pria yang akrab dipanggil Ahok ini dilantik saat dua kubu KMP dan KIH di DPRD DKI Jakarta tengah berseteru terkait payung hukum yang sebaiknya digunakan. Kubu KMP yang dimotori H. Lulung dan M. Taufik terang-terangan menolak pelantikan Ahok karena menurut mereka seorang wakil gubernur tidak otomatis menggantikan posisi gubernur bila sang gubernur berhalangan tetap. Mereka juga meminta pada Mendagri agar tidak segera melantik Ahok dengan dalih menunggu fatwa Mahkamah Agung (MA).

Dengan tafsiran hukum sepotong-potong yang coba digunakan KMP, rupanya Presiden Joko Widodo tak bergeming dan tetap bulat tekad untuk melantik Ahok secepatnya. Tidak main-main, Jokowi bahkan menyempatkan waktu untuk melantik sendiri Ahok di Istana Merdeka. Hal yang unik sebenarnya, bahkan mungkin istimewa. Sebelumnya, hanya Gubernur Ali Sadikin yang pernah dilantik di Istana dan hanya Sultan HB saja yang pernah dilantik langsung oleh Presiden tanpa melalui perantara Mendagri. Meskipun beralasan pelantikan Ahok di Istana karena sesuai amanat Perppu yang mengharuskan Gubernur dilantik di Ibukota, banyak yang berpikir pelantikan bisa dilakukan dimana saja dan tidak harus di Istana Merdeka contohnya di Gedung DPRD DKI.

Keistimewaan ini semakin memberi kesan kalau Jokowi masih peduli dan akan benar-benar men-support Ahok untuk menyukseskan program-programnya dalam rangka membenahi Jakarta. Ini membuktikan bahwa Jokowi tidak begitu saja lepas tangan meninggalkan tanggung jawab dan janji-janjinya yang belum sempat terealisasi. Jokowi tentu sudah sangat yakin dengan kemampuan Ahok mengelola Ibukota melihat besarnya dukungan yang dia berikan melalui tangan-tangan Menteri di Kabinet Kerja. Jokowi melakukan itu, karena Jokowi sangat yakin kalau Ahok orang yang mampu bekerja dan dapat dipercaya.

Jokowi dan Ahok seolah tak terganggu dengan status 'Presiden' yang kini Jokowi miliki. Kita masih bisa lihat sendiri bagaimana hubungan persahabatan mereka. Kita menyaksikan sendiri di Mata Najwa edisi Merayakan Indonesia bahwa tak ada rasa sungkan bagi mereka berdua untuk bercanda dimuka umum. Ahok bahkan berani meledek jam makan dan tubuh kurus Jokowi didepan umum dengan blak-blakan yang membuat semua hadirin tertawa, termasuk Jokowi yang bahkan termasuk yang paling geli ketawanya.

Melihat hubungan mereka, tak heran kalau ada yang menganggap kalau kesetiaan Ahok yang sebenarnya itu justru berada dalam sosok Jokowi, bukan dalam ideologi partai manapun saat ini. Dalam diri Jokowi, terdapat ketegasan dalam bertindak yang tidak ada dalam diri orang lain. Selain itu, Jokowi juga konsisten dengan politik tidak bagi-bagi kursi yang jarang dilakukan orang. Jokowi adalah bukti nyata kalau rakyat kecil juga bisa berkuasa dan melawan kesewenang-wenangan yang selama ini Ahok perjuangkan dengan penegakan hukum yang adil. Tak heran kalau kedepannya apapun keputusan Jokowi, pasti akan Ahok dukung.

Membenahi Jakarta memang bukan perkara mudah. Butuh komunikasi politik yang baik agar kota-kota penyangga Ibukota seperti Depok dan Bekasi mau bekerjasama menyelesaikan masalah yang ada. Depok, misalnya, tentu punya masalah sendiri yang harus diselesaikan ketimbang membantu DKI mengatasi banjir. Semua kepala daerah punya kepentingan dan agenda politik sendiri-sendiri disamping ingin memajukan daerahnya masing-masing. Tentu ini masalah tersendiri bagi Ahok yang saat ini tidak punya dukungan politik dari partai manapun. Terlebih, entah nasib sial Ahok atau tidak, kepala daerah dari kota-kota penyangga DKI Jakarta hampir semua berasal dari KMP. Walikota Depok yang berasal dari PKS, misalnya, tentu enggan membantu Ahok yang jelas-jelas sudah mengalahkan HNW di pilgub DKI dulu. Harus ada campur tangan pihak ketiga agar pemerintahan di daerah tidak berjalan sendiri-sendiri.

Untuk itulah Jokowi merasa perlu turun tangan agar kepala daerah tidak bersikap egois dan saling bekerja sama dan tidak saling sikut adu kepentingan. Tak kenal, maka tak sayang. Mungkin itu yang menginspirasi Jokowi untuk mengadakan pertemuan rutin antarsesama kepala daerah tiap bulannya. Tujuannya jelas yaitu agar kepala daerah yang satu dengan yang lain bisa akrab disamping memperkuat hubungan antara pusat dengan daerah.

Ditengah hubungan mesra Jokowi-Ahok, saat ini justru terjadi kisruh antara petinggi PDIP dengan Ahok terkait orang yang berhak mengisi posisi Wagub DKI. Tjahjo Kumolo dan sejumlah elite PDIP lainnya mengklaim kalau Megawati telah menunjuk Boy Sadikin sebagai orang yang akan menduduki posisi Wagub. Tak salah memang kalau PDIP merasa berhak mengisi jabatan wagub setelah dukungan politik yang besar ketika kisruh pelantikan Ahok kemarin. Tapi masalahnya, hal ini bertentangan dengan Ahok yang menginginkan Wagub dari orang nonpartai.

Mendengar penolakan Ahok, Ahmad Basarah, salah satu Sekjen PDIP bahkan mengancam akan menarik dukungan politik Ahok diparlemen. Ahok tentu berada dalam posisi dilema saat ini. Dahulu, Ahok cuek dengan dukungan DPRD DKI karena dia masih punya Jokowi, teman seperjuangan yang saling membantu menghadapi serangan lawan dan taktik adu domba. Tapi sekarang Ahok sendiri, dukungan politik PDIP tentu akan sangat berguna untuk program dia kedepan. Beruntung, Jokowi sangat menghormati keputusan Ahok dengan tidak ikut campur untuk intervensi Wagub DKI ini. Setidaknya Ahok lega untuk satu hal. Kalaupun PDIP akhirnya memusuhi dia layaknya Gerindra, toh dia masih punya satu orang yang siap untuk mendukungnya dalam kondisi apapun. Orang yang merupakan teman sekaligus bosnya yang kini tinggal di Merdeka Utara, Joko Widodo.

Sabtu, 08 November 2014

Jokowi Ahok Saling Mengisi, Saling Melengkapi

Akhir-akhir ini, kita sering melihat mesranya hubungan Jokowi-Ahok waupun udah nggak nggak ngantor bersama di Balaikota. Terhitung udah tiga kali, Ahok dateng ke istana sekedar untuk lihat-lihat atau ikut rapat bareng menteri kabinet kerja. Banyak yang bilang kalo Jokowi minta Ahok temuin doi buat kasih masukkan kenegaraan. Ahoknya sih bantah. Kata doi, dia dipanggil hanya terkait urusan Jakarta.

Kalo dicermati bener-bener, Jokowi terlihat seperti gagal 'move on' dari Ahok. Mungkin doi kangen dengerin bacotnya Ahok, yang kadang gokil tapi kadang juga bikin orang kesel. Tapi kalo menurut gue, ini sih pertanda kalo doi belum terlalu sreg sama JK sepenuhnya. Perlu waktu emang biar doi berdua bisa seiya-sekata. Atau juga, mungkin Jokowi lagi krisis kepercayaan sama orang-orang disekitarnya. Biar gimana, Ahok udah cukup membuktikan ke Jokowi kalo dia orang yang jujur dan bisa dipercaya. Selama ini, doi nggak pernah jelek-jelekin Jokowi, walaupun dia bisa dengan mudah melakukannya.

Entah kenapa, melihat hubungan mereka berdua, gue yakin banget mereka akan kembali bersama. Kembali menjadi dwitunggal yang saling mengisi dan saling melengkapi. Jujur, gue kangen banget liat statement-statement mereka berdua yang saling membela buat pasangannya. Kalo sekarang, kalian tahu sendiri statementnya cuma searah doang. Mau Ahok puji Jokowi sampe dower Jokowinya tetep aja pasif. Wajar sih emang, doi kan kepala negara. Udah nggak boleh ngomong asal jeplak.

Tapi walaupun udah nggak saling berbalas statement, Jokowi kelihatan kok masih care banget sama Ahok. Doi nggak tega kali ya, Ahok dijegal sana-sini. Makanya doi nyuruh Pak Mendagri nyuratin DPRD DKI buat mempercepat pelantikan Ahok. Bahkan doi juga mengancam akan melantik sendiri Ahok di istana jika DPRD tidak mau melakukannya.

Tapi, gue malah berharap DPRD nggak mau melantik Ahok biar Ahok dilantik sama Jokowi sendiri. Biar kayak menteri gitu. Apalagi pas pelantikan, menteri Kabinet Kerja disuruh dateng semua. Bisa nangis guling-guling tuh duo racun (baca : Topik dan Pak Haji) liat Ahok beneran jadi gubernur. Paling ujung-ujungnya ngerahin massa FPI buat demo lagi. Malah bagus, semakin anarkis semakin kuat alasan Mendagri buat ngebubari FPI. Apalagi kalo demonya pake samurai, gue makin suka, makin greget soalnya.

Jokowi-Ahok bener-bener udah cocok banget sebenernya. Chemistry mereka itu udah kuat banget. Masing-masing mereka tahu tugasnya apa, bahkan mungkin udah bisa baca pikiran pasangannya. Gue tahu banget sebenernya Ahok tuh ngarep jadi wapresnya Jokowi. Dia udah nunggu Jokowi 'ngelamar' dia ke Prabowo menjelang pilpres kemarin. Bahkan kalian tahu sendiri, saking gemesnya nunggu Jokowi ngumpulin keberanian, Ahok sampai ngasih-ngasih kode gitu biar Jokowi gerak cepat. Tapi ternyata, Jokowi udah mundur duluan liat 'calon mertua' galak. Dia udah pesimis dan yakin 'lamaran'nya bakal ditolak. Dia nggak tahu aja, si Ahok sebenernya udah siap 'kabur dari rumah' seandainya Prabowo menolak.

Dan betapa kecewanya Ahok, Jokowi malah milih JK jadi cawapresnya. Tapi Ahok nggak marah, dia ngerti karena kalaupun Jokowi ajak Ahok jadi cawapresnya di pilpres nanti, Ahok cuma jadi titik terlemah pasangan ini. Biar gimanapun, masyarakat Indonesia belum selogis masyarakat Jakarta pola pikirnya. Pilihan politik mereka masih sangat tergantung sama suku dan agama calon pemimpinnya.

Di sini gue salut sama duet ini. Nggak ada berebut proyek atau berebut kekuasaan diantara mereka. Mereka rela menekan ego pribadi demi kepentingan rakyat. Gue berharap, bakal muncul terus pemimpin-pemimpin jujur dan pekerja keras model begini. Pemimpin yang bekerja siang-malam untuk membangun negeri.


Kamis, 02 Oktober 2014

Kesamaan Jokowi Dengan Harry Potter

Melihat dinamika politik saat ini, sangat mengherankan melihat koalisi partai pemenang pemilu terasa seperti minoritas di oposisi. Koalisi Jokowi-JK terlihat hampir tidak berdaya menghadapi Koalisi Merah Putih di parlemen. Tiga kekalahan beruntun PDIP cs pada UUMD3, Pilkada lewat DPRD, dan gagal menempatkan orang di posisi strategis anggota DPR adalah cermin KMP yang sangat serius menjegal kepemimpinan Presiden Terpilih, Joko Widodo. Bahkan wacana yang beredar menyebutkan kalau KMP ingin menghalangi pelantikan Jokowi tanggal 20 Oktober nanti dan berusaha melakukan pemakzulan pada pemerintahan Jokowi kedepan.

Dari sisi politik, semua hal yang dilakukan KMP saat ini memang masih dalam kategori sesuai prosedural. Kecuali tentang penolakan KMP, khususnya Gerindra, pada penetapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang hari ini resmi mengundurkan diri. Secara kontitusional, penolakan ini jelas bertentangan dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Kepala Daerah. Karena jelas di sebutkan kalau kepala daerah berhalangan tetap, maka secara otomatis wakilnya akan naik jabatan dan menggantikannya. Tak ada pasal yang menjelaskan kalau kepala daerah yang keluar dari partai politik pengusungnya akan kehilangan jabatan dan harus diberhentikan.

Sore ini, Jokowi resmi menyatakan pengunduran dirinya di depan para anggota DPRD DKI Jakarta. Dan Ahok secara resmi kini berstatus Plt Gubernur sampai pelantikkannya. Sayang sekali Ahok tak bisa mendampingi Jokowi di saat-saat terakhirnya sebagai gubernur, walau sebelumnya Ahok terlihat tergesa-gesa menemui Jokowi untuk berbincang empat mata. Netizen twitter berpendapat, kalau Ahok terlalu galau untuk mengungkapkan kalimat perpisahan, dan memilih menjauh daripada merasakan sakit akibat kehilangan yang lebih dalam.

Sebenarnya kalau dicermati, ada kemiripan antara Jokowi dan karakter fiksi Harry Potter. Bukan berdasarkan fisik, tapi berdasarkan kesamaan karakter dan jalan hidup. Jokowi itu benar-benar seperti versi nyata Harry Potter. Untuk lebih jelas, kesamaannya bisa kita lihat sebagai berikut:

1.) Lahir saat masa suram.

Mereka sama-sama dilahirkan saat kesuraman dan kejahatan benar-benar berkuasa dan hampir tak terbendung pengaruhnya. Harry Potter lahir saat kekuatan Voldemort benar-benar berada di puncak. Saat itu jumlah Death Eater bertambah berkali-kali lipat sementara kekuatan Orde semakin berkurang akibat banyak yang terbunuh. Begitu juga Jokowi. Dia lahir saat korupsi berjamaah menjadi hal lumrah dimasyarakat. Wakil rakyat dan kepala daerah yang seharusnya bekerja untuk rakyat, justru malah memperkaya diri dan keluarganya saja. Pejabat yang tak mau menerima suap akan terkucilkan dari pergaulan. Dan kejujuran telah menjadi hal langka.

2.) Takdir dan 'tangan-tangan kasat mata'.

Mereka berdua sama-sama tak menyangka kalau mereka punya tanggung jawab sangat besar menyangkut kepentingan orang banyak. Takdir yang mendorong untuk memikul 'beban' itu lewat tangan-tangan tak kasat mata. Tak ada masyarakat dunia sihir yang percaya sebelumnya kalau ada yang bisa selamat dari kutukan Avada Kedavra. Tapi nyatanya, Voldemort pun harus menerima kalau dia tak bisa membunuh seorang bayi dengan kutukan adalannya. Begitu juga Jokowi, Foke dan semua kampanye hitam berbau SARA, tak mampu menghalanginya untuk membalikkan seluruh survey dan menjadi pemenang Pilkada DKI Jakarta dengan dana seadanya.

3.) Punya sahabat yang mendukung.

Mereka berdua sama-sama punya teman yang selalu membantu dan mendukung, tulus atas nama persahabatan. Kita semua tahu bagaimana indahnya persahabatan Ron-Harry-Hermione. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka. Saling mendukung dan membantu dalam kesulitan. Dan membela saat yang lain dipojokkan. Dan Jokowi beruntung punya Ron yang apa adanya dan kecerdasan Hermione secara kombinasi dalam diri Ahok.

4.) Musuh yang super power.

Ini adalah hal yang bener-bener membuat cerita mereka seru. Kita tahu betapa besar kekuatan Voldemort demi menguasai dunia sihir. Dia bergerak dibalik layar dengan menebar teror dan ancaman mengendalikan boneka-bonekanya di Kementerian Sihir. Selain itu Voldemort juga punya kelompok pengikut yang sangat loyal bernama Death Eater. Death Eater sangat patuh pada Pangeran Kegelapan. Mereka bersedia mati demi melayani Voldemort bahkan mendekam di sel Azkaban bersama Dementor. Jokowi juga punya lawan yang sama beratnya dalam diri Prabowo Subianto. Kekayaan dan pengaruh Jokowi di kalangan elite politik masih kalah jauh dibanding Prabowo yang telah sekian lama malang melintang di dunia perpolitikan. Selain itu, Prabowo juga punya koalisi yang cukup solid bernama Koalisi Merah Putih dengan 7 partai didalamnya yang menguasai 60% lebih kursi di parlemen. Kebijakan-kebijakan Jokowi ada kemungkinan terhambat realisasinya akibat eksekutif dan legislatif yang tidak bersinergi.

5.) Masih punya hati nurani.

Sebenci apapun Harry pada Voldemort dan betapapun besarnya keinginannya untuk menghancurkan Voldemort, Harry tak akan pernah mau merapalkan salah satu Kutukan-Tak-Termaafkan untuk membunuh Voldemort. Hati Harry yang masih murni tak mau mencari pembenaran atas tindakan yang salah. Walaupun hampir semua masyarakat dunia sihir menganggap kalau kematian Voldemort dengan cara apapun adalah hal yang patut di syukuri. Harry tahu kalau membunuh orang atas alasan apapun, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusian. Begitu juga Jokowi, sebesar apapun kampanye hitam dan manuver-manuver KMP untuk menjatuhkan kepercayaan publik terhadap dirinya, Jokowi tak akan pernah tega membalasnya dengan hal yang sama. Jokowi tahu kalau Prabowo melakukan semua hal itu hanya karena emosi sesaat akibat kalah di pilpres kemarin.

Masih banyak lagi sebenarnya kesaman-kesamaan antara Jokowi dan Harry Potter. Tapi, secara substansi mungkin lima hal diatas yang paling mendasar. Melihat hal-hal tersebut, patut ditunggu bagaimana nasib pemerintahan Jokowi kedepan. Apakah endingnya berakhir bahagia seperti di cerita Harry Potter? Atau sebaliknya. Yang jelas, sebagai warga negara kita patut mengawasi dan mengkritisi langkah kebijakan yang diambil Sang Presiden Terpilih.

Minggu, 28 September 2014

Pengesahan RUU Pilkada Oleh DPRD, Ahok Jadi Orator?

Pasca pengesahan RUU Pilkada oleh DPRD pada sidang paripurna Kamis, 26 September kemarin, terjadi gelombang kekecewaan yang sangat luas di kalangan warga media sosial. Netizen menganggap kalau Pilkada lewat DPRD adalah salah satu bentuk pembungkaman terhadap suara rakyat. Dengan adanya UU tersebut, rakyat kini tak bisa lagi menggunakan hak politiknya untuk memilih kepala daerahnya sendiri. Hal yang di anggap banyak pihak sebagai kemunduran demokrasi.

Kekesalan rakyat terhadap UU Pilkada ini nampaknya sudah sedemikian besar hingga hastag #ShameOnYouSBY mampu bertengger selama dua hari di Trending Topic Internasional. Walaupun pihak twitter sempat menghilangkan tagar tersebut karena dianggap menghina pemimpin negara, cuitan rakyat sebagai bentuk penolakan pada pengesahan RUU Pilkada tersebut justru tak kunjung redam. Rakyat justru makin bersemangat untuk menyalurkan aspirasinya lewat tagar #ShamedByYou , yang kalau di perhatikan lebih lanjut merupakan kepanjangan dari SBY, Bapak presiden yang sangat kita hormati. Terhitung sampai minggu malam, cuitan warga medsos pada tagar #ShamedByYou mencapai lebih dari 168 ribu mention dan merajai Trending Topic Indonesia seharian penuh. Tentu ini merupakan rekor tersendiri mengingat temanya yang syarat politik. Sangat jarang sebelumnya, hal-hal berbau politis masuk dalam jejeran 'topik-topik terhangat di masyarakat' twitter yang menurut Menteri Komunikasi dan Teknologi kita tercinta, sebagian besar penggunannya belum akil baligh.

Menarik memang menyaksikan manuver-manuver Partai Demokrat dengan janji manisnya untuk mendukung Pilkada langsung. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana 'wajah tulus' Pak SBY di youtube yang menyatakan akan mendukung Pilkada langsung karena dianggap merupakan keinginan sebagian besar masyarakat Indonesia. Jujur saja, saya termasuk salah satu orang yang optimis kalau Koalisi Indonesia Hebat akan menang dengan adanya dukungan Demokrat. Saya percaya kalau Demokrat, sekorup apapun kadernya, masih memiliki hati nurani dalam diri Ketua Dewan Pembinanya. Dari pulang sekolah, saya sangat bersemangat menyaksikan Sidang Paripurna. Saat itu, saya benar-benar mengagumi argumen-argumen cerdas para anggota dewan kita yang terhormat tentang aplikasi demokrasi kita saat ini. Saya menyaksikannya dengan sabar jalannya persidangan, tak peduli dengan kerasnya suara para anggota dewan yang saling adu mulut. Keinginan saya sederhana. Saya hanya ingin melihat pengesahan keputusan, yang saya dan sebagian besar masyarakat Indonesia inginkan.  Dan betapa mencelos hati saya, ketika di detik-detik pengambilan voting, Demokrat dengan seenaknya memilih walk out dari persidangan. Saat itu, saya benar-benar kecewa! Saya sadar bahwa bajingan-bajingan tersebut telah merebut hak politik saya. Yang saya tahu hanya mereka tak berhak melakukannya!

Harus saya akui bahwa Demokrat telah memainkan perannya sangat baik. Keputusan mereka begitu mengejutkan banyak pihak. Mungkin bagi KMP, ini adalah suatu kemenangan besar dan patut dirayakan. Tapi menurut rakyat Indonesia, ini adalah pembunuhan demokrasi secara brutal.

Kita semua tahu, bahwa KMP begitu serius dalam mengembalikan kejayaan Orde Baru demi mengganggu pemerintahan Jokowi ke depannya. Tindakan meraka yamg dilandasi semangat balas dendam, membuat mereka melakukan serangan-serangan secara membabi buta. Mereka tak peduli bahwa rakyatlah yang harus membayar harga yang sangat mahal atas hilangnya hak untuk bersuara. Sudah menjadi rahasia umum, kalau Pengesahan RUU Pilkada ini adalah langkah awal dengan tujuan akhir yang jelas, yaitu Pemilihan Presiden oleh MPR.

KMP sangat jelas ingin melemahkan pengaruh Jokowi di tingkat daerah. Mereka ingin membuat pemerintahan Jokowi berjalan sendiri tanpa koordinasi dengan daerah. Tapi itu tidak akan berhasil. Rakyat sudah cerdas. Rakyat kini sudah tahu siapa yang tulus, siapa yang hanya mementingkan kekuasaan. KMP harus tahu kalau RUU Pilkada bukan hanya usaha untuk mengalahkan Jokowi, tapi juga bentuk tantangan terhadap rakyat Indonesia seluruhnya. Dan Jokowi juga harus mengerti kalau dia tak hanya memiliki Koalisi Indonesia Hebat yang mendukungnya, tapi mempunyai jutaan rakyat Indonesia yang akan dengan sepenuh hati membelanya.

Sebagai seorang masyarakat awam, saya membayangkan kalau Jokowi akan melakukan pengerahan massa di Gedung MK untuk menolak Penetapan RUU Pilkada tersebut sebagai Undang-Undang yang sah. Jokowi bukan orang yang pandai berpidato di depan umum, besar kemungkinan dia akan melibatkan Ahok sebagi orator pembakar semangat. Kita semua tahu, kalau Ahok punya daya analitis yang sangat tinggi dengan detail yang mengagumkan. Dia orang yang mudah mempengaruhi orang lain dengan argumen-argumen yang sangat masuk akal dan mudah di cerna kaum awam.

Karenanya, Ahok harus berorasi meyakinkan rakyat untuk menuntut pembubaran KMP, pembersihan parlemen dari unsur KMP, dam pelarangan siaran tv si Lumpur Lapindo. Saya rasa, semua orang setuju kalau KMP adalah organisasi berbahaya yang dapat menggangu kelangsungan hidup rakyat banyak. Kita bisa lihat sendiri bagaimana usaha KMP untuk mengubah undang-undang bahkan membunuh demokrasi. Lagipula, tak ada yang di rugikan seandainya KMP di bubarkan. 250 juta rakyat justru akan selamat dari pembodohan politik dan pelegalan kesewenang-wenangan pejabat.

Kalaupun pembubaran KMP dirasa mustahil dan melanggar Undang-Undang Dasar, kita sebagai rakyat kini hanya bisa yakin pada kinerja Hamdan Zoelfa di MK. Kita harus percaya kalau MK adalah lembaga yang masih memiliki hati nurani. Dan kalau pun itu masih gagal, kita hanya bisa mengingat bahwa PKS, Gerindra, PPP, Golkar, dan Demokrat adalah partai-partai pengkhianat bangsa dan negara kita tercinta.

Rabu, 17 September 2014

Ahok Pergi Karena Jokowi

Melihat sepak terjang Wakil Gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama dua minggu terakhir memang sangat menarik dan menghibur. Media seakan tak pernah bosan untuk meliput segala ucapan dan tindakan Ahok, terlebih pasca pengunduran dirinya sebagai kader Gerindra. Perlawanan Ahok terhadap Gerindra tentang pemilihan kepala daerah lewat DPRD menimbulkan gejolak sendiri dimasyarakat. Rakyat disuguhkan dengan drama terbaik yang mempertontonkan karakter asli dari para tokoh yang terlibat. Secara tidak langsung, rakyat telah diberikan pendidikan politik yang sangat berharga. Rakyat kini mengerti betapa besar peran mereka dalam menentukan nasib bangsa. Dan akibatnya, rakyat secara spontan ikut aktif menyuarakan pendapatnya apabila terjadi penolakan atas pengambilan keputusan-keputusan yang berdampak luas terhadap kelangsungan hidup masyarakat kedepannya.

Fenomena ini adalah salah satu dari rangkaian peristiwa-peristiwa unik bersejarah yang tak pernah terjadi sebelumnya. Kita semua tahu bahwa Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 bener-benar telah menunjukkan efek domino terhadap sistem politik dan ketatanegaraan negara. Setelahnya, muncul figur-figur reformis demokrasi yang mampu mendobrak tembok pembatas antara pejabat dan rakyat. Sikap apatis rakyat terhadap para pejabat dan politikus semakin berkurang seiring dengan berkembangnya harapan bahwa masih ada pejabat yang benar-benar peduli pada kesejahteraan rakyat dan berusaha merealiasikan janji-janji politik semasa kampanye dengan sepenuh hati. Rakyat yang merasa lebih dekat dengan pemimpinnya secara emosional otomatis tergerak untuk mendukung dan menyukseskan kebijakan-kebijakan yang di ambil pemimpinnya. Mereka yakin kalau pemimpin mereka tengah berkerja dan berjuang mati-matian agar aspirasi mereka terpenuhi.

Pasca pilpres banyak yang  mengklaim bahwa rakyat kini tengah terbelah dan terkotak-kotak antara kubu No. 1 atau kubu No. 2. Tapi sebenarnya tak ada ketegangan berlebih pasca kubu No. 2 di sahkan oleh MK. Rakyat kembali ke kehidupan sebelumnya. Tak ada silang sengketa apalagi pertikaian dan perang dingin yang sering diberitakan dimana-mana.

Suasana yang kembali menegang itu tak lebih hanya karena kekecewaan dan kekesalan kubu yang kalah pilpres kemarin. Mereka tak segan memeras otak demi menciptakan ide-ide licik dalam upaya menghambat kelangsungan masa pemerintahan presiden yang baru. Puncaknya adalah ketika Koalisi Merah Putih mencoba mengubah sistem pemilihan kepala daerah lewat DPRD. Segala dalil dari sudut pandang hukum dan agama mereka keluarkan untuk membenarkan tindakan mereka. Tapi rakyat tahu, rakyat sedang menilai siapa yang tulus bekerja untuk rakyat dan siapa yang sedang memakai topeng bermuka manis yang hanya memikirkan segelintir orang saja.

Sikap Ahok yang terang-terangan menyatakan berseberangan dengan Partai Gerindra sebagai partai pengusungnya menjadi wagub DKI Jakarta menimbulkan banyak tanggapan positif dari masyarakat. Penyataan beliau yang hanya ingin menjadi budak rakyat mampu membangkitkan people power perlawanan rakyat atas kesewenang-wenangan pejabat. Kini rakyat yang ada di belakang Ahok, siap membela Ahok melawan tirani mayoritas.

Ada yang bilang kalau sikap politik Ahok yang berbeda dengan Partai Gerindra hanyalah bagian dari manuver-manuver politik Ahok untuk Oktober atau 2017. Ahok memang menjadi salah satu kandidat terkuat untuk pos Menteri Dalam Negeri kabinet Jokowi-JK, tapi itu tak lantas membenarkan dugaan tersebut.

Sikap Ahok menolak pilkada lewat DPRD sangat mungkin muncul dikarenakan alasan perbedaan ideologi. Ahok merasa bahwa Gerindra tak konsisten dengan politik yang mengandalkan rekam jejak. Sah-sah saja memang Ahok menolak ide pilkada lewat DPRD dengan keras. Itu adalah prinsip dasar orang yang jujur. Nuraninya pasti memberontak apabila dia membiarkan begitu saja undang-undang yang berpotensi besar menyuburkan aksi KKN dan suap-menyuap di kalangan elite politik.

Ahok sering bilang kalau tujuan dia berpolitik adalah untuk membantu dan memperjuangkan hak-hak orang miskin. Ahok tahu kalau orang miskin tak punya kekuatan apa-apa untuk melawan kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan jabatan. Dengan pengalamannya yang seringkali merasakan diskriminasi, Ahok pasti paham betul rasanya tersisihkan.

Berpartner dan berteman dengan Jokowi selam dua tahun lebih, tentu membuat Ahok memiliki kedekatan personal yang erat dengan Jokowi. Kita tentu sering melihat statment-statment 'galau' Ahok waktu pilpres kemarin. Ahok berada dalam posisi terjepit di antara dua orang yang cukup berjasa dalam kariernya. Ahok sadar kalau pilihannya kepada salah satu kubu pasti akan mengakibatkan pihak lain tersakiti. Tapi untuk hal ini, Ahok cukup bijak untuk memberikan dukungannya pada Prabowo-Hatta. Ahok tahu kalau Jokowi akan mengerti. Dia tak akan marah dan pasti menghormati apapun pilihan politik Ahok.

Pada salah satu wawancara, bahkan Ahok pernah mengungkapkan kalau memilih antara Prabowo dengan Jokowi sama saja dengan disuruh memilih antara istri resmi dan selingkuhan. Ketika ditanya lebih lanjut siapa yang istri resmi, Ahok menjawab gamblang kalau dia secara resmi adalah kader Gerindra. Mendengar pernyataan Ahok, presenter tersebut mencecarnya dengan bertanya tentang alasan Ahok menjadikan Jokowi 'selingkuhan'. Dengan terus terang Ahok menjawab, kalau secara personal dia merasa lebih dekat dengan Jokowi. Komunikasi intens dan pertemuan rutin yang akrab, membuat Ahok merasa kalau dia telah  menemukan 'seseorang yang lebih cocok'.

Pertemuan Ahok dengan Prabowo pun boleh jadi sangat jarang terjadi. Ahok bilang kalau pertemuannya dengan Prabowo seringkali hanya berupa pertemuan formal antara Dewan Pembina dan kadernya saja. Kalau melihat fakta diatas, tidak salah memang kalau banyak yang meragukan loyalitas Ahok pada Gerindra. Banyak yang menyangsikan bahwa Ahok benar-benar mencoblos Prabowo di bilik suara 9 Juli kemarin. Biar bagaimana pun, Ahok tak bisa benar-benar menyakiti Jokowi yang lebih dia anggap sebagai temannya. Tanpa menafikan peran Gerindra, Ahok sadar kalau berkat Jokowi lah dia bisa menduduki jabatan DKI2.

Sebagai seorang teman, Ahok tahu betul karakter Jokowi. Sikap Jokowi yang selalu tulus dan jujur membuat Ahok, yang begitu kaku terhadap konstitusi, mau tak mau menjadi luluh. Kita tentu bisa melihat sendiri betapa seringnya Ahok memuji bosnya itu. Prinsip mereka adalah bagi kerja, Jokowi selalu meyakinkan Ahok kalau tak ada satu pun alasan untuk membuat mereka harus bersaing. Mereka berdua  sama-sama yakin, kalau tanpa adanya kepentingan, mereka tak akan mungkin bentrok. Hal ini lah yang membuat hubungan mereka selalu baik-baik saja. Perbedaan pendapat selalu mereka selesaikan bersama tanpa perlu mengumbar statement saling menjatuhkan di muka publik.

Salah satu kelebihan Jokowi adalah Jokowi tak pernah menganggap seseorang lebih rendah kedudukannya darinya. Tak heran, kalau dia memperlakukan Ahok benar-benar sebagai wakil bukan sebagai ban serep yang biasa terjadi sebelumnya. Jokowi seringkali membiarkan Ahok memutuskan kebijakan. Dengan sering mendapat kepercayan besar, Ahok jadi merasa benar-benar dibutuhkan. Kemampuan problem solving Ahok berkembang bersama Jokowi. Hal yang tak akan pernah terjadi bila bersama orang lain.

Wajar bila Ahok takut kehilangan Jokowi dan tak rela jika Jokowi 'meninggalkan' dia sendiri di Ibukota. Kita tentu pernah dengar salah satu statement Ahok yang seolah-olah menyatakan kalau dia benar-benar takut  kehilangan Jokowi. Ahok tahu kalau sangat sulit mencari orang jujur dan sejalan dengannya untuk menegakkan kontitusi. Terlebih, Jokowi juga bukan tipe orang yang gila jabatan dan penghargaan. Jokowi tak pernah berusaha untuk menonjolkan diri di depan publik apalagi mengklaim pikiran mereka berdua sebagai usaha pribadi.

Walaupun Ahok tak rela Jokowi pergi, tapi Ahok tak punya kuasa untuk menahan keinginan bosnya. Jokowi telah mendapat mandat dari Megawati untuk menjadi (calon) presiden atas desakan dari rakyat. Ahok tahu kalau Jokowi kini milik Indonesia yang ingin meminangnya. Ahok tentu berharap untuk bisa bersama lebih lama dengan Jokowi. Tapi kemudian keinginannya itu terbentur dengan sikap politik partai. Ahok tentu tak rela 'bercerai' begitu saja dengan Jokowi. Karenanya, tak heran kalau Ahok terlihat enggan mengkampanyekan Prabowo. Itu semua terjadi karena Ahok terlihat gerah dengan cara partainya menjatuhkan Jokowi. Tak jarang, Ahok justru sering pasang badan membela Jokowi dengan meng-counter serangan-serangan verbal dari kubu No. 1.

Pembelaan-pembelaan Ahok yang terlihat cerdas dan logis seringkali membuat kampanye hitam yang diarahkan ke Jokowi berbalik arah. Akibatnya timbul simpati rakyat pada Jokowi secara meluas. Mungkin itulah salah satu hal yang membuat Kubu No. 1 berang dan ingin menyingkirkan Ahok. Mereka sadar betul, kalau Ahok mempunyai kemampuan untuk membentuk opini publik. Mereka tentu tak ingin citra mereka di masyarakat hancur berantakan. Tapi, lagi-lagi Ahok tidak bodoh. Ia tahu bahwa ia sudah lama tak sejalan dengan kebijakan partai politik pengusungnya. Dia sadar bahwa cepat atau lambat surat pemecatan akan segera dia terima. Dan begitu isu pilkada bergulir, terlebih pilkada lewat DPRD tak sesuai nuraninya, Ahok langsung mengeksekusinya.

Setelah Jokowi resmi ditetapkan sebagai Presiden terpilih oleh MK, tentu Ahok tak ingin hubungannya dengan Jokowi berakhir begitu saja. Ahok ingin agar Jokowi tetap bersamanya menyelesaikan persoalan-persoalan pelik Ibukota lewat kemitraan antara pemerintah pusat dan daerah. Ahok sadar kalau kemungkinannya sangat kecil Jokowi akan membantunya sementara Gerindra tak henti-hentinya mencoba merongrong pemerintahannya. Ahok tahu, hanya dengan meninggalkan Gerindra lah, hubungannya dengan Jokowi dapat tetap terjaga. Tanpa partai, Ahok menjadi pejabat bebas tanpa beban politik yang mengganjal. Dengan melihat perkembangan politik saat ini, tinggal menunggu waktu saja kapan kira-kira kita akan melihat lagi Jokowi-Ahok jilid II.

Minggu, 14 September 2014

Quotes of Nona Muda 3

Ketika memutuskan untuk keluar dari Gerindra, aku sadar kalau jalanku ke depan akan lebih terjal dan sengsara. Aku tahu konsekuensi dari pilihanku akan berbuntut panjang pada usaha-usaha penjegalan. Aku siap akan hal itu. Tak ada beban yang menurutku memberatkan. Bahkan aku berpikir kalau dua puluh tahun ke depan, setiap ucapan dan perbuatanku saat ini akan menjadi sejarah tersendiri. Aku tak pernah berpikir untuk hanya mencari sensasi dan pencitraan politik. Semua ini kulakukan karena nuraniku terusik dengan dengan pembodohan yang terjadi di penggung sandiwara politik. Tak masalah aku menjadi antagonis

Rabu, 10 September 2014

Ahok : Jokowi, Kamu Berbeda

Not disclaimer. Penulis tidak menerima apapun dari penulisan fanfiction ini Mohon maaf jika pihak yang terkait dalam cerita ini merasa kurang berkenan. Ini hanya sekedar untuk have fun aja. Please enjoy :-)

Ahok's POV

Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, aku menyaksikan si bajingan itu berkoar-koar menantangku didepan televisi. Iya, ia hanya bajingan yang hanya menginginkan kekuasaan mutlak. Orang-orang munafik bermuka santun tapi sebenarnya pencuri berkedok wakil rakyat.

Aku muak dengan semua manuver-manuver partai Koalisi Merah Putih yang mencoba menghalalkan segala cara untuk menuntaskan dendam mereka atas kekalahan pilpres kemarin. Aku geram melihat mereka yang berusaha setengah mati menjatuhkan teman sekaligus bosku, Pak Jokowi. Harusnya mereka berfikir kalau kekalahan mereka itu karena ulah mereka sendiri. Aku sudah memperingatkan mereka untuk tak menyerang Pak Jokowi dengan black champaign yang membabi buta. Aku paham betul kalau black champaign pada akhirnya hanya akan menimbulkan simpati dari rakyat untuk lawan. Dan lihat saja, aku benar sepenuhnya.

***
Normal POV

Mata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyipit geram, "Oke, kalo itu yang kalian mau. Gue bakal turutin. Gue urus semuanya besok."

Ahok bangun dari tempat duduknya. Dia melirik jam tangannya lalu menghampiri ruangan Pak Jokowi di lantai bawah. Dia bertanya pada sekretaris Pak Jokowi kemana Pak Jokowi pergi saat itu. Sekretaris itu menjelaskan keberadaan bosnya. Ahok mengangguk mengerti. Segera dia bersama ajudannya pergi bersama ketempat yang dibilang sekretaris itu.

"Mau kemana Pak kita sekarang?" tanya Ajudan heran. Tidak biasanya si bos pergi di jam kerja. Memang, selama Pak Jokowi cuti kampanye, Pak Ahok jadi sering pergi-pergian. Gantiin beliau blusukkan, katanya, kalau ditanya orang. Tapi, ketika Pak Jokowi kembali lagi menjadi gubernur, Pak Ahok kembali ke habitat awalnya. Beliau lebih suka ndekem dikantor sampai malam daripada keluyuran di jalanan.

Ahok tersentak kaget. " Eh, kita ke daerah Rusun Marunda ya Pak. Saya mau menemui Pak Jokowi." Ajudan Ahok mengangguk mengerti.

Begitu sampai di Rusun Maruda, Ahok menelepon Jokowi. Dia ingin menahan Jokowi agar tidak pergi kemana-mana. Setelah beberapa kali menelpon namun tidak diangkat, Ahok mendesah pasrah. Ini yang Ahok tidak suka dari blusukkan bosnya itu. Beliau jadi sangat sulit dihubungi.

Ahok memutuskan untuk berkeliling mencari Jokowi. Dan itu tidak berlangsung lama. Bosnya tak pernah pergi ke suatu tempat tanpa ratusan bahkan ribuan massa yang mengelilinginya. Dia selalu menjadi magnet orang-orang disekitarnya untuk datang menghampiri.

Dan benar saja, Pak Jokowi kini tengah berada di antara ribuan warga ketika ingin kembali ke mobil dinasnya. Dia terlihat santai dan menikmati keadaan. Beliau terlihat tak peduli dengan udara panas dan tarikan-tarikan warga yang berdesakan mencoba menghampirinya. Dari kejauhan, Ahok tersenyum geli melihat seorang Paspampres berbaju batik kuning yang bersunggut-sunggut mencoba menghalangi seorang ibu-ibu yang mencoba memeluk Jokowi. Sementara itu, seorang anggota paspampres berbaju batik biru lainnya terlihat setengah frustasi menghalangi wartawati cerewet yang mengacungkan alat perekam suara persis didepan mulut Jokowi. Para anggota Paspampres itu terlihat kesal dan lelah. Berbanding terbalik dengan wajah Jokowi yang telihat cerah bersemangat.

Salah satu Anggota Paspampres menujuk keberadaan Ahok kepada Jokowi. Jokowi tersenyum. Dia melambaikan tangannya ke Ahok. Berlari kecil meninggalkan Paspampres yang masih sibuk menghalangi warga dan wartawan yang masih berusaha mengejarnya.

"Eh, ada Pak Ahok. Ada apa Pak Ahok? Bapak pasti pengen blusukkan ya bareng saya" goda Jokowi. Ahok tertawa, " Ga usah lah Pak. Nanti kalo saya kurus mendadak kan repot. Lagian saya kesini nyari bapak bukan mau ikut blusukkan. Saya ingin ketemu bapak, pengen minta pertimbangan."

Jokowi mengernyit sesaat lalu tersenyum. "Yo weis, kita ngobrol di Warung Soto Diafie saja. Kita bisa ngobrol sepuasnya disana." Jokowi merendahkan suaranya, " Bener-bener kita berdua aja loh ya. Tanpa Paspampres." Ahok tertawa geli. "Siap bos!" kata Ahok sambil dengan gestur hormat. Lalu mereka berdua masuk kedalam bersama.

***

Selama di perjalanan, Ahok seringkali tak habis pikir dengan karaker Jokowi yang menurutnya kadang sangat berlainan dengan wajahnya. Dua tahun mengenal Jokowi, Ahok sering dibuat terkejut dengan pola pikir bosnya itu yang suka melawan arus. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Jawa, sudah pasti Jokowi tak bisa lepas dari keramahan dan toto kromo adat jowo. Tapi sebenarnya, dibalik wajah yang menurut Jokowi sendiri 'ndeso dan ndak suka macem-macem' itu, Jokowi merupakan sosok yang tak akan segan mengambil resiko-resiko besar dan terlihat ingin mendobrak kemapanan.

Ahok sering tertawa mendengar ocehan lawan politik Jokowi tentang ketidaktegasan Jokowi selama memimpin DKI. Jokowi mencla-mecle, itu omong kosong! Ahok masih ingat betul keteguhan hati Jokowi memilihnya sebagai pendamping dibanding nama setenar Deddy Mizwar. Ahok maklum dengan sorot mata keraguan dalam diri Bu Mega. Ya, dia tahu dia hanya 'anak baru' dikalangan elite politisi. Tak ada yang mengenal Ahok sebelumnya. Selain itu agama dan etnis menjadi kendala tersendiri. Tak ada yang yang memungkiri kalau Deddy Mizwar dan Ahok seperti beda langit dengan bumi.

Saat itu, Jokowi sudah cukup populer dikalangan warga sebagai walikota Solo yang jujur, sederhana dan mempunyai rekam jejak yang bagus selama tujuh tahun masa kepemimpinannya. Tentu lebih mudah baginya jika menggandeng partner sekaliber Deddy Mizwar. Selain itu,  Ahok pun belum pernah bertemu atau mendengar berita tentang Jokowi sebelumnya. Dan betapa herannya Ahok ketika Jokowi memilihnya, walau pertemuan mereka baru sekejap mata.

Ahok tak pernah menyangka kalau sosok kurus dan kalem yang sedari tadi diam di sudut ruangan di Kebagusan malam itu ternyata terang-terangan memilihnya di hadapan Mega dan Prabowo. Ahok masih ingat dengan wajah Bu Mega yang tercengang, terlebih setelah Jokowi 'mengancam' akan kembali ke Solo jika wagubnya bukan Ahok. Ahok menatap Jokowi, bingung, antara percaya dan tidak percaya. Menjadi wagub di Ibukata? Walau belum tentu terjadi, Ahok tak pernah menyangka kalau dia ada di tangga pertama jalan mewujudkan impiannya.

Bu Mega mencoba membujuk Jokowi untuk berpikir ulang. Jokowi tak bergeming. Prabowo memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, enggan berkomentar lebih lanjut. Suasana yang menegang membuat Ahok salah tingkah. Ahok mencoba membuat kontak mata dengan Jokowi yang tetap tenang. Tapi Jokowi tak memperhatikan. Wajah Jokowi mengeras, menunjukkan kebulatan tekad yang kuat atas keputusannya. Saat itu, Ahok benar-benar terpesona aura kepemimpinan Jokowi. Jokowi seakan menjadi orang yang berbeda dengan walikota lugu yang kemarin mempromosikan mobil Esemka.

Dan selama mereka bersama, Ahok tak pernah bosan melihat sisi-sisi penuh kejutan dari orang kini duduk disampingnya.

***

Senin, 01 September 2014

Kamu Lawan Atau Teman

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)'s POV :

Setelah sekian banyak hal sulit yang kualami, aku menyadari, bahwa perpisahan diantara kita terlalu sulit  untuk kujalani. Aku merasa bahwa aku dan kamu memang telah bersatu. Lebih dari yang ku sangka, aku telah menganggapmu lebih dari yang seharusnya. Kita adalah partner kerja. Tak ada silang sengketa diantara kita karena hanya itulah yang kau minta. Aku tak pernah mengerti, mengapa sampai saat ini, aku rela sepenuh hati membantu dan membelamu. Walaupun kita sempat berada disimpang jalan, persabahabatanku denganmu tetaplah prioritasku nomer satu. Kau tahu, kau telah buatku berada diposisi yang membingungkan. Aku bingung menganggap kamu lawan atau teman. Tapi ku sadar aku tak mampu sampai hati membiarkan fitnah-fitnah keji itu menyerangmu tanpa nurani. Aku mengenalmu, dan dari dua tahun komunikasi diantara kita, aku bertaruh bahwa sampai mati pun kau tak akan pernah tega membalasnya. Karena itulah, aku tak pernah ragu membelamu. Walau sebagai akibatnya pilihanku yang berbeda menimbulkan prasangka-prasangka tentang arah kesetiaanku yang sebenarnya. Lagi pula aku muak dengan mereka. Aku berang pada pecundang-pencundang yang bersembunyi di balik undang-undang. Bagiku mereka tak lebih dari sekedar penjilat jahat yang tak seharusnya hidup di negeri ini. Keahlian mereka hanya korupsi dan manipulasi. Ku harap kelak, jika Pak Jokowi telah menjadi orang nomor satu di negeri ini, sikat habis semua pejabat khianat yg tak amanat. Selain itu, jika kelak aku akan mengisi kursimu di Ibukota, aku berharap persahabatan kita akan tetap ada dan bertahan selamanya.

Minggu, 31 Agustus 2014

Quotes of Nona Muda

Dua tahun sudah berlalu, kala pilkada DKI Jakarta telah menyita perhatian Indonesia. Sosok Jokowi-Basuki muncul menawarkan gebrakan perubahan. Meski terlihat hanya sebuah retorika awalnya, tapi kerja nyata keduanya mampu membuktikannya. Perbedaan partai politik tak membuat mereka saling mengusik. Jokowi dan Ahok mengerti, bahwa untuk membangun ibukota, Jakarta memerlukan "orang tua" yang lengkap. Karenannya mereka berdua selalu terlihat kompak dengan masing-masing yang saling menjaga sikap. Perbedaan pendapat tentu sering terjadi.

Senin, 18 Agustus 2014

Bantu Ahok Genggam Erat Niat Baiknya

Akhir-akhir ini, gue jujur aja, gue kurang nyaman dengan beberapa statementnya Ahok. Ahok bilang hari ini kalau Pak Jokowi itu selalu memberikan dia kepercayaan besar. Bahkan dari dulu pun, kata Ahok, Ahok udah sering memimpin rapat dan memutuskan sendiri kebijakan-kebijakan Pemprov DKI. Bagi Pak Jokowi mungkin biasa-biasa aja. Tapi menurut gue, Ahok itu sekarang mulai menonjolkan dirinya di atas bosnya, yaitu Pak Jokowi. Apalagi Ahok juga buat pernyataan kalau selama ini dia berada dalam bayang-bayang Pak Jokowi dan seolah-olah mengganggap kalau keberhasilan Pak Jokowi selama ini ga lebih cuma pencatutan nama Pak Jokowi atas ide dan kebijakan-kebijakan Ahok.

Gue cuma khawatir aja sih sebenernya tentang gejala-gejala yang mungkin mengindikasi kalau Ahok mungkin ingin segera menjadi orang nomer satu di DKI. Gue takut aja kalau penyakit-penyakit gila jabatan dan kekuasaan udah mulai bersarang di Ahok. Ya, gue care sama Ahok. Gue ga pengen dia terjelembab di jurang hitam gara-gara kenikmatan sesat.

Dari awal gue udah sadar kalau Ahok itu lebih to the point dalam urusan-urusan politik ketimbang Pak Jokowi. Ada motivasi kuat dalam diri Ahok untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan yang lebih tinggi. Ahok orang baik, gue yakin itu. Dia punya niat tulus untuk memperbaiki kebobrokan sistem birokrasi saat ini dengan kolusi, korupsi dan nepotisme yang kian menjamur. Dia ingin membangun bangsa ini menjadi lebih baik, dengan gebrakan-gebrakan dan ide-ide inovatif yang kadang mungkin kita ga pernah kita pikirin. Ahok cinta Indonesia, dan karenanya kita mesti bantu dia untuk tetap menggenggam erat niat baiknya.

Quotes of Nona Muda 3

Kegembiran politik yang tengah dirasakan seluruh partisipan karbitan ternyata tak mampu menembus benteng kekhawatiran orang sekaliber Basuki Tjahaja Purnama. Lebih dari sisi ceplas-ceplosnya, Ahok tak mampu menutupi rasa kehilangannya ketika pemimpin yang selalu membelanya meninggalkan dia sendirian di balaikota. Joko Widodo biar bagaimanapun telah mengambil simpatik dan rasa hormatnya. Jokowi telah menjelma menjadi salah satu dari sedikit tokoh yang dapat dia percaya. Ahok hanyalah manusia biasa. Dia tahu, sangat sulit bertemu lagi dengan orang yang dapat mengambil hatinya dan memaksanya bekerja sama membangun kota Jakarta..

Jokowi Ahok... Mereka Saling Mencintai

Selama liburan, gue bener-bener kena sama yang namanya demam pilpres. Sibuk sendiri kalo capres jagoan gue, dihina, diejek apalagi difitnah. Tiap hari selalu apdet berita-berita terbaru, trus saling sharing deh sama Ibu. Untuk soal copras-capres, kali ini gue sehati sama Ibu gue. Sama-sama suka capres yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Tau kan kira-kira siapa? Hehe xD

Selama gue mengikuti berita-berita terapdet tentang capres jagoan gue, sebut saja Jokowi kalo ada yang masih bingung. Gue juga sempet flashback tentang kinerja dia sebagai gubernur DKI. Dan jeng jrengg, nemu deh pak Ahok, si preman Jekardah.

Gue sebagai warga setengah-depok-setengah-DKI, emang dari dulu nggak pernah peduli sama politik dan pemerintahan Jakarta. Jadi ya jangan salahin gue kalo berita Anas yang mau digantung di monas lebih menarik dari blusukannya pak Jokowi atau video pak Ahok yang tiba-tiba lebih ngetrend dari chaiya-chaiyanya Briptu Norman Kamaru.

Politik itu bosenin! Iya, itu bener banget. Politik adalah kata paling membosankan lebih dari pelajaran sains terapan menurut gue. Tapi, itu sebelum ada duet maut Jokowi-Ahok. :) Gue banyak nge-search tentang pasangan ini, dan hasilnya muncul judul-judul artikel yang sebaiknya nggak dibaca sama orang yang berpuasa. Bener-bener cetar membahana. Huahuahua xD

Judul artikel aja udah bikin orang mikir macem2 tentang mereka berdua. Maka nggak heran, ketika gue sering search tentang Jokowi-Ahok yang muncul komentar-komentar berbau fujoshi. Kayak ih mesra, jadi iri, best couple, pasangan serasi, jokowi selingkuh, ahok setia menunggu dan yah gitu deh search aja sendiri. Ada juga lho bahkan, yang bilang mereka… saling mencintai. Haha, udah ah. Lebhay. Otak udah ngaco banget ini. Hihi xD

Tapi kalo gue liat, menurut gue pribadi mereka itu emang cocok banget dipasangin di fanfic-fanfic bromance. Yang satu, cool dan kalem. Yang satunya, galak dan tukang marah-marah. Klop kan? Cocok banget tuh. Apalagi gelagat-gelagat mereka tuh selalu nunjukin kalo mereka pasangan yang saling mengisi, melengkapi dan tentu saling menyayangi satu sama lain. Contohnya, mereka pernah lho sepayung berdua, semobil berdua, dikantor berdua. Mesra banget kan? Hehe xD

Gue sering ngebayangin mukanya Ahok yang galak itu jadi memerah malu didepan Jokowi. Salah tingkah gitu mereka berdua. Bayangin kalo mereka saling kangen satu sama lain kalo lagi jauh. Telpon-telponan cuma mau bilang ‘met bobo. Miss you :*’  Hua, nggak kebayangin deh kalo bu Iriana sama bu Veronica baca postingan ini. Jangan marah ya ibu-ibu, namanya juga ngayal. Hehe -,-V

See you next time guys :)