Translate

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Jokowi Ahok Saling Mengisi, Saling Melengkapi

Akhir-akhir ini, kita sering melihat mesranya hubungan Jokowi-Ahok waupun udah nggak nggak ngantor bersama di Balaikota. Terhitung udah tiga kali, Ahok dateng ke istana sekedar untuk lihat-lihat atau ikut rapat bareng menteri kabinet kerja. Banyak yang bilang kalo Jokowi minta Ahok temuin doi buat kasih masukkan kenegaraan. Ahoknya sih bantah. Kata doi, dia dipanggil hanya terkait urusan Jakarta.

Kalo dicermati bener-bener, Jokowi terlihat seperti gagal 'move on' dari Ahok. Mungkin doi kangen dengerin bacotnya Ahok, yang kadang gokil tapi kadang juga bikin orang kesel. Tapi kalo menurut gue, ini sih pertanda kalo doi belum terlalu sreg sama JK sepenuhnya. Perlu waktu emang biar doi berdua bisa seiya-sekata. Atau juga, mungkin Jokowi lagi krisis kepercayaan sama orang-orang disekitarnya. Biar gimana, Ahok udah cukup membuktikan ke Jokowi kalo dia orang yang jujur dan bisa dipercaya. Selama ini, doi nggak pernah jelek-jelekin Jokowi, walaupun dia bisa dengan mudah melakukannya.

Entah kenapa, melihat hubungan mereka berdua, gue yakin banget mereka akan kembali bersama. Kembali menjadi dwitunggal yang saling mengisi dan saling melengkapi. Jujur, gue kangen banget liat statement-statement mereka berdua yang saling membela buat pasangannya. Kalo sekarang, kalian tahu sendiri statementnya cuma searah doang. Mau Ahok puji Jokowi sampe dower Jokowinya tetep aja pasif. Wajar sih emang, doi kan kepala negara. Udah nggak boleh ngomong asal jeplak.

Tapi walaupun udah nggak saling berbalas statement, Jokowi kelihatan kok masih care banget sama Ahok. Doi nggak tega kali ya, Ahok dijegal sana-sini. Makanya doi nyuruh Pak Mendagri nyuratin DPRD DKI buat mempercepat pelantikan Ahok. Bahkan doi juga mengancam akan melantik sendiri Ahok di istana jika DPRD tidak mau melakukannya.

Tapi, gue malah berharap DPRD nggak mau melantik Ahok biar Ahok dilantik sama Jokowi sendiri. Biar kayak menteri gitu. Apalagi pas pelantikan, menteri Kabinet Kerja disuruh dateng semua. Bisa nangis guling-guling tuh duo racun (baca : Topik dan Pak Haji) liat Ahok beneran jadi gubernur. Paling ujung-ujungnya ngerahin massa FPI buat demo lagi. Malah bagus, semakin anarkis semakin kuat alasan Mendagri buat ngebubari FPI. Apalagi kalo demonya pake samurai, gue makin suka, makin greget soalnya.

Jokowi-Ahok bener-bener udah cocok banget sebenernya. Chemistry mereka itu udah kuat banget. Masing-masing mereka tahu tugasnya apa, bahkan mungkin udah bisa baca pikiran pasangannya. Gue tahu banget sebenernya Ahok tuh ngarep jadi wapresnya Jokowi. Dia udah nunggu Jokowi 'ngelamar' dia ke Prabowo menjelang pilpres kemarin. Bahkan kalian tahu sendiri, saking gemesnya nunggu Jokowi ngumpulin keberanian, Ahok sampai ngasih-ngasih kode gitu biar Jokowi gerak cepat. Tapi ternyata, Jokowi udah mundur duluan liat 'calon mertua' galak. Dia udah pesimis dan yakin 'lamaran'nya bakal ditolak. Dia nggak tahu aja, si Ahok sebenernya udah siap 'kabur dari rumah' seandainya Prabowo menolak.

Dan betapa kecewanya Ahok, Jokowi malah milih JK jadi cawapresnya. Tapi Ahok nggak marah, dia ngerti karena kalaupun Jokowi ajak Ahok jadi cawapresnya di pilpres nanti, Ahok cuma jadi titik terlemah pasangan ini. Biar gimanapun, masyarakat Indonesia belum selogis masyarakat Jakarta pola pikirnya. Pilihan politik mereka masih sangat tergantung sama suku dan agama calon pemimpinnya.

Di sini gue salut sama duet ini. Nggak ada berebut proyek atau berebut kekuasaan diantara mereka. Mereka rela menekan ego pribadi demi kepentingan rakyat. Gue berharap, bakal muncul terus pemimpin-pemimpin jujur dan pekerja keras model begini. Pemimpin yang bekerja siang-malam untuk membangun negeri.


Kamis, 02 Oktober 2014

Kesamaan Jokowi Dengan Harry Potter

Melihat dinamika politik saat ini, sangat mengherankan melihat koalisi partai pemenang pemilu terasa seperti minoritas di oposisi. Koalisi Jokowi-JK terlihat hampir tidak berdaya menghadapi Koalisi Merah Putih di parlemen. Tiga kekalahan beruntun PDIP cs pada UUMD3, Pilkada lewat DPRD, dan gagal menempatkan orang di posisi strategis anggota DPR adalah cermin KMP yang sangat serius menjegal kepemimpinan Presiden Terpilih, Joko Widodo. Bahkan wacana yang beredar menyebutkan kalau KMP ingin menghalangi pelantikan Jokowi tanggal 20 Oktober nanti dan berusaha melakukan pemakzulan pada pemerintahan Jokowi kedepan.

Dari sisi politik, semua hal yang dilakukan KMP saat ini memang masih dalam kategori sesuai prosedural. Kecuali tentang penolakan KMP, khususnya Gerindra, pada penetapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang hari ini resmi mengundurkan diri. Secara kontitusional, penolakan ini jelas bertentangan dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Kepala Daerah. Karena jelas di sebutkan kalau kepala daerah berhalangan tetap, maka secara otomatis wakilnya akan naik jabatan dan menggantikannya. Tak ada pasal yang menjelaskan kalau kepala daerah yang keluar dari partai politik pengusungnya akan kehilangan jabatan dan harus diberhentikan.

Sore ini, Jokowi resmi menyatakan pengunduran dirinya di depan para anggota DPRD DKI Jakarta. Dan Ahok secara resmi kini berstatus Plt Gubernur sampai pelantikkannya. Sayang sekali Ahok tak bisa mendampingi Jokowi di saat-saat terakhirnya sebagai gubernur, walau sebelumnya Ahok terlihat tergesa-gesa menemui Jokowi untuk berbincang empat mata. Netizen twitter berpendapat, kalau Ahok terlalu galau untuk mengungkapkan kalimat perpisahan, dan memilih menjauh daripada merasakan sakit akibat kehilangan yang lebih dalam.

Sebenarnya kalau dicermati, ada kemiripan antara Jokowi dan karakter fiksi Harry Potter. Bukan berdasarkan fisik, tapi berdasarkan kesamaan karakter dan jalan hidup. Jokowi itu benar-benar seperti versi nyata Harry Potter. Untuk lebih jelas, kesamaannya bisa kita lihat sebagai berikut:

1.) Lahir saat masa suram.

Mereka sama-sama dilahirkan saat kesuraman dan kejahatan benar-benar berkuasa dan hampir tak terbendung pengaruhnya. Harry Potter lahir saat kekuatan Voldemort benar-benar berada di puncak. Saat itu jumlah Death Eater bertambah berkali-kali lipat sementara kekuatan Orde semakin berkurang akibat banyak yang terbunuh. Begitu juga Jokowi. Dia lahir saat korupsi berjamaah menjadi hal lumrah dimasyarakat. Wakil rakyat dan kepala daerah yang seharusnya bekerja untuk rakyat, justru malah memperkaya diri dan keluarganya saja. Pejabat yang tak mau menerima suap akan terkucilkan dari pergaulan. Dan kejujuran telah menjadi hal langka.

2.) Takdir dan 'tangan-tangan kasat mata'.

Mereka berdua sama-sama tak menyangka kalau mereka punya tanggung jawab sangat besar menyangkut kepentingan orang banyak. Takdir yang mendorong untuk memikul 'beban' itu lewat tangan-tangan tak kasat mata. Tak ada masyarakat dunia sihir yang percaya sebelumnya kalau ada yang bisa selamat dari kutukan Avada Kedavra. Tapi nyatanya, Voldemort pun harus menerima kalau dia tak bisa membunuh seorang bayi dengan kutukan adalannya. Begitu juga Jokowi, Foke dan semua kampanye hitam berbau SARA, tak mampu menghalanginya untuk membalikkan seluruh survey dan menjadi pemenang Pilkada DKI Jakarta dengan dana seadanya.

3.) Punya sahabat yang mendukung.

Mereka berdua sama-sama punya teman yang selalu membantu dan mendukung, tulus atas nama persahabatan. Kita semua tahu bagaimana indahnya persahabatan Ron-Harry-Hermione. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka. Saling mendukung dan membantu dalam kesulitan. Dan membela saat yang lain dipojokkan. Dan Jokowi beruntung punya Ron yang apa adanya dan kecerdasan Hermione secara kombinasi dalam diri Ahok.

4.) Musuh yang super power.

Ini adalah hal yang bener-bener membuat cerita mereka seru. Kita tahu betapa besar kekuatan Voldemort demi menguasai dunia sihir. Dia bergerak dibalik layar dengan menebar teror dan ancaman mengendalikan boneka-bonekanya di Kementerian Sihir. Selain itu Voldemort juga punya kelompok pengikut yang sangat loyal bernama Death Eater. Death Eater sangat patuh pada Pangeran Kegelapan. Mereka bersedia mati demi melayani Voldemort bahkan mendekam di sel Azkaban bersama Dementor. Jokowi juga punya lawan yang sama beratnya dalam diri Prabowo Subianto. Kekayaan dan pengaruh Jokowi di kalangan elite politik masih kalah jauh dibanding Prabowo yang telah sekian lama malang melintang di dunia perpolitikan. Selain itu, Prabowo juga punya koalisi yang cukup solid bernama Koalisi Merah Putih dengan 7 partai didalamnya yang menguasai 60% lebih kursi di parlemen. Kebijakan-kebijakan Jokowi ada kemungkinan terhambat realisasinya akibat eksekutif dan legislatif yang tidak bersinergi.

5.) Masih punya hati nurani.

Sebenci apapun Harry pada Voldemort dan betapapun besarnya keinginannya untuk menghancurkan Voldemort, Harry tak akan pernah mau merapalkan salah satu Kutukan-Tak-Termaafkan untuk membunuh Voldemort. Hati Harry yang masih murni tak mau mencari pembenaran atas tindakan yang salah. Walaupun hampir semua masyarakat dunia sihir menganggap kalau kematian Voldemort dengan cara apapun adalah hal yang patut di syukuri. Harry tahu kalau membunuh orang atas alasan apapun, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusian. Begitu juga Jokowi, sebesar apapun kampanye hitam dan manuver-manuver KMP untuk menjatuhkan kepercayaan publik terhadap dirinya, Jokowi tak akan pernah tega membalasnya dengan hal yang sama. Jokowi tahu kalau Prabowo melakukan semua hal itu hanya karena emosi sesaat akibat kalah di pilpres kemarin.

Masih banyak lagi sebenarnya kesaman-kesamaan antara Jokowi dan Harry Potter. Tapi, secara substansi mungkin lima hal diatas yang paling mendasar. Melihat hal-hal tersebut, patut ditunggu bagaimana nasib pemerintahan Jokowi kedepan. Apakah endingnya berakhir bahagia seperti di cerita Harry Potter? Atau sebaliknya. Yang jelas, sebagai warga negara kita patut mengawasi dan mengkritisi langkah kebijakan yang diambil Sang Presiden Terpilih.

Minggu, 28 September 2014

Pengesahan RUU Pilkada Oleh DPRD, Ahok Jadi Orator?

Pasca pengesahan RUU Pilkada oleh DPRD pada sidang paripurna Kamis, 26 September kemarin, terjadi gelombang kekecewaan yang sangat luas di kalangan warga media sosial. Netizen menganggap kalau Pilkada lewat DPRD adalah salah satu bentuk pembungkaman terhadap suara rakyat. Dengan adanya UU tersebut, rakyat kini tak bisa lagi menggunakan hak politiknya untuk memilih kepala daerahnya sendiri. Hal yang di anggap banyak pihak sebagai kemunduran demokrasi.

Kekesalan rakyat terhadap UU Pilkada ini nampaknya sudah sedemikian besar hingga hastag #ShameOnYouSBY mampu bertengger selama dua hari di Trending Topic Internasional. Walaupun pihak twitter sempat menghilangkan tagar tersebut karena dianggap menghina pemimpin negara, cuitan rakyat sebagai bentuk penolakan pada pengesahan RUU Pilkada tersebut justru tak kunjung redam. Rakyat justru makin bersemangat untuk menyalurkan aspirasinya lewat tagar #ShamedByYou , yang kalau di perhatikan lebih lanjut merupakan kepanjangan dari SBY, Bapak presiden yang sangat kita hormati. Terhitung sampai minggu malam, cuitan warga medsos pada tagar #ShamedByYou mencapai lebih dari 168 ribu mention dan merajai Trending Topic Indonesia seharian penuh. Tentu ini merupakan rekor tersendiri mengingat temanya yang syarat politik. Sangat jarang sebelumnya, hal-hal berbau politis masuk dalam jejeran 'topik-topik terhangat di masyarakat' twitter yang menurut Menteri Komunikasi dan Teknologi kita tercinta, sebagian besar penggunannya belum akil baligh.

Menarik memang menyaksikan manuver-manuver Partai Demokrat dengan janji manisnya untuk mendukung Pilkada langsung. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana 'wajah tulus' Pak SBY di youtube yang menyatakan akan mendukung Pilkada langsung karena dianggap merupakan keinginan sebagian besar masyarakat Indonesia. Jujur saja, saya termasuk salah satu orang yang optimis kalau Koalisi Indonesia Hebat akan menang dengan adanya dukungan Demokrat. Saya percaya kalau Demokrat, sekorup apapun kadernya, masih memiliki hati nurani dalam diri Ketua Dewan Pembinanya. Dari pulang sekolah, saya sangat bersemangat menyaksikan Sidang Paripurna. Saat itu, saya benar-benar mengagumi argumen-argumen cerdas para anggota dewan kita yang terhormat tentang aplikasi demokrasi kita saat ini. Saya menyaksikannya dengan sabar jalannya persidangan, tak peduli dengan kerasnya suara para anggota dewan yang saling adu mulut. Keinginan saya sederhana. Saya hanya ingin melihat pengesahan keputusan, yang saya dan sebagian besar masyarakat Indonesia inginkan.  Dan betapa mencelos hati saya, ketika di detik-detik pengambilan voting, Demokrat dengan seenaknya memilih walk out dari persidangan. Saat itu, saya benar-benar kecewa! Saya sadar bahwa bajingan-bajingan tersebut telah merebut hak politik saya. Yang saya tahu hanya mereka tak berhak melakukannya!

Harus saya akui bahwa Demokrat telah memainkan perannya sangat baik. Keputusan mereka begitu mengejutkan banyak pihak. Mungkin bagi KMP, ini adalah suatu kemenangan besar dan patut dirayakan. Tapi menurut rakyat Indonesia, ini adalah pembunuhan demokrasi secara brutal.

Kita semua tahu, bahwa KMP begitu serius dalam mengembalikan kejayaan Orde Baru demi mengganggu pemerintahan Jokowi ke depannya. Tindakan meraka yamg dilandasi semangat balas dendam, membuat mereka melakukan serangan-serangan secara membabi buta. Mereka tak peduli bahwa rakyatlah yang harus membayar harga yang sangat mahal atas hilangnya hak untuk bersuara. Sudah menjadi rahasia umum, kalau Pengesahan RUU Pilkada ini adalah langkah awal dengan tujuan akhir yang jelas, yaitu Pemilihan Presiden oleh MPR.

KMP sangat jelas ingin melemahkan pengaruh Jokowi di tingkat daerah. Mereka ingin membuat pemerintahan Jokowi berjalan sendiri tanpa koordinasi dengan daerah. Tapi itu tidak akan berhasil. Rakyat sudah cerdas. Rakyat kini sudah tahu siapa yang tulus, siapa yang hanya mementingkan kekuasaan. KMP harus tahu kalau RUU Pilkada bukan hanya usaha untuk mengalahkan Jokowi, tapi juga bentuk tantangan terhadap rakyat Indonesia seluruhnya. Dan Jokowi juga harus mengerti kalau dia tak hanya memiliki Koalisi Indonesia Hebat yang mendukungnya, tapi mempunyai jutaan rakyat Indonesia yang akan dengan sepenuh hati membelanya.

Sebagai seorang masyarakat awam, saya membayangkan kalau Jokowi akan melakukan pengerahan massa di Gedung MK untuk menolak Penetapan RUU Pilkada tersebut sebagai Undang-Undang yang sah. Jokowi bukan orang yang pandai berpidato di depan umum, besar kemungkinan dia akan melibatkan Ahok sebagi orator pembakar semangat. Kita semua tahu, kalau Ahok punya daya analitis yang sangat tinggi dengan detail yang mengagumkan. Dia orang yang mudah mempengaruhi orang lain dengan argumen-argumen yang sangat masuk akal dan mudah di cerna kaum awam.

Karenanya, Ahok harus berorasi meyakinkan rakyat untuk menuntut pembubaran KMP, pembersihan parlemen dari unsur KMP, dam pelarangan siaran tv si Lumpur Lapindo. Saya rasa, semua orang setuju kalau KMP adalah organisasi berbahaya yang dapat menggangu kelangsungan hidup rakyat banyak. Kita bisa lihat sendiri bagaimana usaha KMP untuk mengubah undang-undang bahkan membunuh demokrasi. Lagipula, tak ada yang di rugikan seandainya KMP di bubarkan. 250 juta rakyat justru akan selamat dari pembodohan politik dan pelegalan kesewenang-wenangan pejabat.

Kalaupun pembubaran KMP dirasa mustahil dan melanggar Undang-Undang Dasar, kita sebagai rakyat kini hanya bisa yakin pada kinerja Hamdan Zoelfa di MK. Kita harus percaya kalau MK adalah lembaga yang masih memiliki hati nurani. Dan kalau pun itu masih gagal, kita hanya bisa mengingat bahwa PKS, Gerindra, PPP, Golkar, dan Demokrat adalah partai-partai pengkhianat bangsa dan negara kita tercinta.

Rabu, 17 September 2014

Ahok Pergi Karena Jokowi

Melihat sepak terjang Wakil Gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama dua minggu terakhir memang sangat menarik dan menghibur. Media seakan tak pernah bosan untuk meliput segala ucapan dan tindakan Ahok, terlebih pasca pengunduran dirinya sebagai kader Gerindra. Perlawanan Ahok terhadap Gerindra tentang pemilihan kepala daerah lewat DPRD menimbulkan gejolak sendiri dimasyarakat. Rakyat disuguhkan dengan drama terbaik yang mempertontonkan karakter asli dari para tokoh yang terlibat. Secara tidak langsung, rakyat telah diberikan pendidikan politik yang sangat berharga. Rakyat kini mengerti betapa besar peran mereka dalam menentukan nasib bangsa. Dan akibatnya, rakyat secara spontan ikut aktif menyuarakan pendapatnya apabila terjadi penolakan atas pengambilan keputusan-keputusan yang berdampak luas terhadap kelangsungan hidup masyarakat kedepannya.

Fenomena ini adalah salah satu dari rangkaian peristiwa-peristiwa unik bersejarah yang tak pernah terjadi sebelumnya. Kita semua tahu bahwa Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 bener-benar telah menunjukkan efek domino terhadap sistem politik dan ketatanegaraan negara. Setelahnya, muncul figur-figur reformis demokrasi yang mampu mendobrak tembok pembatas antara pejabat dan rakyat. Sikap apatis rakyat terhadap para pejabat dan politikus semakin berkurang seiring dengan berkembangnya harapan bahwa masih ada pejabat yang benar-benar peduli pada kesejahteraan rakyat dan berusaha merealiasikan janji-janji politik semasa kampanye dengan sepenuh hati. Rakyat yang merasa lebih dekat dengan pemimpinnya secara emosional otomatis tergerak untuk mendukung dan menyukseskan kebijakan-kebijakan yang di ambil pemimpinnya. Mereka yakin kalau pemimpin mereka tengah berkerja dan berjuang mati-matian agar aspirasi mereka terpenuhi.

Pasca pilpres banyak yang  mengklaim bahwa rakyat kini tengah terbelah dan terkotak-kotak antara kubu No. 1 atau kubu No. 2. Tapi sebenarnya tak ada ketegangan berlebih pasca kubu No. 2 di sahkan oleh MK. Rakyat kembali ke kehidupan sebelumnya. Tak ada silang sengketa apalagi pertikaian dan perang dingin yang sering diberitakan dimana-mana.

Suasana yang kembali menegang itu tak lebih hanya karena kekecewaan dan kekesalan kubu yang kalah pilpres kemarin. Mereka tak segan memeras otak demi menciptakan ide-ide licik dalam upaya menghambat kelangsungan masa pemerintahan presiden yang baru. Puncaknya adalah ketika Koalisi Merah Putih mencoba mengubah sistem pemilihan kepala daerah lewat DPRD. Segala dalil dari sudut pandang hukum dan agama mereka keluarkan untuk membenarkan tindakan mereka. Tapi rakyat tahu, rakyat sedang menilai siapa yang tulus bekerja untuk rakyat dan siapa yang sedang memakai topeng bermuka manis yang hanya memikirkan segelintir orang saja.

Sikap Ahok yang terang-terangan menyatakan berseberangan dengan Partai Gerindra sebagai partai pengusungnya menjadi wagub DKI Jakarta menimbulkan banyak tanggapan positif dari masyarakat. Penyataan beliau yang hanya ingin menjadi budak rakyat mampu membangkitkan people power perlawanan rakyat atas kesewenang-wenangan pejabat. Kini rakyat yang ada di belakang Ahok, siap membela Ahok melawan tirani mayoritas.

Ada yang bilang kalau sikap politik Ahok yang berbeda dengan Partai Gerindra hanyalah bagian dari manuver-manuver politik Ahok untuk Oktober atau 2017. Ahok memang menjadi salah satu kandidat terkuat untuk pos Menteri Dalam Negeri kabinet Jokowi-JK, tapi itu tak lantas membenarkan dugaan tersebut.

Sikap Ahok menolak pilkada lewat DPRD sangat mungkin muncul dikarenakan alasan perbedaan ideologi. Ahok merasa bahwa Gerindra tak konsisten dengan politik yang mengandalkan rekam jejak. Sah-sah saja memang Ahok menolak ide pilkada lewat DPRD dengan keras. Itu adalah prinsip dasar orang yang jujur. Nuraninya pasti memberontak apabila dia membiarkan begitu saja undang-undang yang berpotensi besar menyuburkan aksi KKN dan suap-menyuap di kalangan elite politik.

Ahok sering bilang kalau tujuan dia berpolitik adalah untuk membantu dan memperjuangkan hak-hak orang miskin. Ahok tahu kalau orang miskin tak punya kekuatan apa-apa untuk melawan kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan jabatan. Dengan pengalamannya yang seringkali merasakan diskriminasi, Ahok pasti paham betul rasanya tersisihkan.

Berpartner dan berteman dengan Jokowi selam dua tahun lebih, tentu membuat Ahok memiliki kedekatan personal yang erat dengan Jokowi. Kita tentu sering melihat statment-statment 'galau' Ahok waktu pilpres kemarin. Ahok berada dalam posisi terjepit di antara dua orang yang cukup berjasa dalam kariernya. Ahok sadar kalau pilihannya kepada salah satu kubu pasti akan mengakibatkan pihak lain tersakiti. Tapi untuk hal ini, Ahok cukup bijak untuk memberikan dukungannya pada Prabowo-Hatta. Ahok tahu kalau Jokowi akan mengerti. Dia tak akan marah dan pasti menghormati apapun pilihan politik Ahok.

Pada salah satu wawancara, bahkan Ahok pernah mengungkapkan kalau memilih antara Prabowo dengan Jokowi sama saja dengan disuruh memilih antara istri resmi dan selingkuhan. Ketika ditanya lebih lanjut siapa yang istri resmi, Ahok menjawab gamblang kalau dia secara resmi adalah kader Gerindra. Mendengar pernyataan Ahok, presenter tersebut mencecarnya dengan bertanya tentang alasan Ahok menjadikan Jokowi 'selingkuhan'. Dengan terus terang Ahok menjawab, kalau secara personal dia merasa lebih dekat dengan Jokowi. Komunikasi intens dan pertemuan rutin yang akrab, membuat Ahok merasa kalau dia telah  menemukan 'seseorang yang lebih cocok'.

Pertemuan Ahok dengan Prabowo pun boleh jadi sangat jarang terjadi. Ahok bilang kalau pertemuannya dengan Prabowo seringkali hanya berupa pertemuan formal antara Dewan Pembina dan kadernya saja. Kalau melihat fakta diatas, tidak salah memang kalau banyak yang meragukan loyalitas Ahok pada Gerindra. Banyak yang menyangsikan bahwa Ahok benar-benar mencoblos Prabowo di bilik suara 9 Juli kemarin. Biar bagaimana pun, Ahok tak bisa benar-benar menyakiti Jokowi yang lebih dia anggap sebagai temannya. Tanpa menafikan peran Gerindra, Ahok sadar kalau berkat Jokowi lah dia bisa menduduki jabatan DKI2.

Sebagai seorang teman, Ahok tahu betul karakter Jokowi. Sikap Jokowi yang selalu tulus dan jujur membuat Ahok, yang begitu kaku terhadap konstitusi, mau tak mau menjadi luluh. Kita tentu bisa melihat sendiri betapa seringnya Ahok memuji bosnya itu. Prinsip mereka adalah bagi kerja, Jokowi selalu meyakinkan Ahok kalau tak ada satu pun alasan untuk membuat mereka harus bersaing. Mereka berdua  sama-sama yakin, kalau tanpa adanya kepentingan, mereka tak akan mungkin bentrok. Hal ini lah yang membuat hubungan mereka selalu baik-baik saja. Perbedaan pendapat selalu mereka selesaikan bersama tanpa perlu mengumbar statement saling menjatuhkan di muka publik.

Salah satu kelebihan Jokowi adalah Jokowi tak pernah menganggap seseorang lebih rendah kedudukannya darinya. Tak heran, kalau dia memperlakukan Ahok benar-benar sebagai wakil bukan sebagai ban serep yang biasa terjadi sebelumnya. Jokowi seringkali membiarkan Ahok memutuskan kebijakan. Dengan sering mendapat kepercayan besar, Ahok jadi merasa benar-benar dibutuhkan. Kemampuan problem solving Ahok berkembang bersama Jokowi. Hal yang tak akan pernah terjadi bila bersama orang lain.

Wajar bila Ahok takut kehilangan Jokowi dan tak rela jika Jokowi 'meninggalkan' dia sendiri di Ibukota. Kita tentu pernah dengar salah satu statement Ahok yang seolah-olah menyatakan kalau dia benar-benar takut  kehilangan Jokowi. Ahok tahu kalau sangat sulit mencari orang jujur dan sejalan dengannya untuk menegakkan kontitusi. Terlebih, Jokowi juga bukan tipe orang yang gila jabatan dan penghargaan. Jokowi tak pernah berusaha untuk menonjolkan diri di depan publik apalagi mengklaim pikiran mereka berdua sebagai usaha pribadi.

Walaupun Ahok tak rela Jokowi pergi, tapi Ahok tak punya kuasa untuk menahan keinginan bosnya. Jokowi telah mendapat mandat dari Megawati untuk menjadi (calon) presiden atas desakan dari rakyat. Ahok tahu kalau Jokowi kini milik Indonesia yang ingin meminangnya. Ahok tentu berharap untuk bisa bersama lebih lama dengan Jokowi. Tapi kemudian keinginannya itu terbentur dengan sikap politik partai. Ahok tentu tak rela 'bercerai' begitu saja dengan Jokowi. Karenanya, tak heran kalau Ahok terlihat enggan mengkampanyekan Prabowo. Itu semua terjadi karena Ahok terlihat gerah dengan cara partainya menjatuhkan Jokowi. Tak jarang, Ahok justru sering pasang badan membela Jokowi dengan meng-counter serangan-serangan verbal dari kubu No. 1.

Pembelaan-pembelaan Ahok yang terlihat cerdas dan logis seringkali membuat kampanye hitam yang diarahkan ke Jokowi berbalik arah. Akibatnya timbul simpati rakyat pada Jokowi secara meluas. Mungkin itulah salah satu hal yang membuat Kubu No. 1 berang dan ingin menyingkirkan Ahok. Mereka sadar betul, kalau Ahok mempunyai kemampuan untuk membentuk opini publik. Mereka tentu tak ingin citra mereka di masyarakat hancur berantakan. Tapi, lagi-lagi Ahok tidak bodoh. Ia tahu bahwa ia sudah lama tak sejalan dengan kebijakan partai politik pengusungnya. Dia sadar bahwa cepat atau lambat surat pemecatan akan segera dia terima. Dan begitu isu pilkada bergulir, terlebih pilkada lewat DPRD tak sesuai nuraninya, Ahok langsung mengeksekusinya.

Setelah Jokowi resmi ditetapkan sebagai Presiden terpilih oleh MK, tentu Ahok tak ingin hubungannya dengan Jokowi berakhir begitu saja. Ahok ingin agar Jokowi tetap bersamanya menyelesaikan persoalan-persoalan pelik Ibukota lewat kemitraan antara pemerintah pusat dan daerah. Ahok sadar kalau kemungkinannya sangat kecil Jokowi akan membantunya sementara Gerindra tak henti-hentinya mencoba merongrong pemerintahannya. Ahok tahu, hanya dengan meninggalkan Gerindra lah, hubungannya dengan Jokowi dapat tetap terjaga. Tanpa partai, Ahok menjadi pejabat bebas tanpa beban politik yang mengganjal. Dengan melihat perkembangan politik saat ini, tinggal menunggu waktu saja kapan kira-kira kita akan melihat lagi Jokowi-Ahok jilid II.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kenaikkan Harga BBM

Kenaikkan harga BBM kini jadi topik paling banyak diperbicangkan. Semua sibuk membahas dan berbalas opini di warung kopi. Ada yang pro, ada yang kontra. Pemerintah yang lama dilema, memilih antara meninggalkan kesan buruk di akhir jabatan atau meringankan beban sang suksesor di masa depan. Sedangkan pemerintahan yang baru tak ingin di awal masa pemerintahannya terganggu dengan adanya ribuan mahasiswa yang unjuk rasa di Istana Merdeka. Segala usulan tentang alternatif penyelesaian harus dipertimbangan. Pemerintahan transisi harus mengeluarkan kemampuannya melobi-lobi agar kesepakatan bersama dapat tercipta. Sebulan kedepan adalah penentuan jalannya pemerintahan lima tahun kedepan. Rakyat Indonesia bosan menyaksikan drama yang mengatasnamakan kepentingan bangsa. Kalaupun BBM harus naik, seharusnya bukan hanya rakyat miskin yang makin tercekik. Para pejabat juga harus ikut prihatin. Tunjangan-tunjangan tak penting sebaiknya dikurangi. Dengan begitu rakyat bisa merasakan langsung adanya aplikasi dari sila kelima. Yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Senin, 18 Agustus 2014

Memilih Teman

Berteman dan membina hubungan yang baik dengan sesama manusia lainnya, merupakan suatu proses alamiah yang pasti dan memang diperlukan setiap individu. Tak bisa dipungkiri, kebutuhan secara sosiologis dan membentuk suatu struktur masyarakat menjadikan setiap individu melakukan hal-hal tertentu sesuai norma dan hukum yang berlaku.

Tapi, secara naluriah setiap individu pasti mempunyai kriteria-kriteria tertentu tentang individu lain yang bisa bekerja dan bekerja sama dengannya. Disinilah kita, sebagai individu, diharapkan menyadari pentingnya ‘modal’ kita dalam memulai, membina dan mempertahankan suatu hubungan. Sangat penting, bagi seorang individu, untuk mengenal pribadi individu lainnya yang menurutnya cocok dan sehati. Peranan psikologis berupa keyakinan tentang kebaikan-kebaikan individu lainnya memang dominan dalam proses seleksi ini. Tapi, diperlukan sikap kritis dan ingin tahu bagi seorang individu dengan memaknai lebih jauh ungkapan, “Jangan menilai buku dari sampulnya saja.”

Sebagai seorang individu, kedekatan-kedekatan secara personal seringkali membiaskan perspektif kita tentang perilaku individu lain yang dikenalnya. Seorang individu faktanya lebih sering menggunakan sudut pandang yang subjektif terlebih pada hal yang bersifat kekerabatan. Kita semua tahu, kalau hal itu adalah kodrat Tuhan. Tapi sebaiknya, kita mengurangi hal-hal tersebut terlebih yang menyangkut kemaslahatan dan kepentingan orang banyak.

Karena itulah kita harus menyadari, memilih teman-teman merupakan bagian penting bagi proses membina persahabatan dan kemasyaratan. Memilih teman disini bukan berarti membeda-bedakan berdasarkan suku, agama, ras maupun antargolongan (SARA). Akan tetapi memilih teman-teman yang akan membantu kita menjadi bagian dari kesatuan masyarakat yang utuh tanpa mengurangi objectivitas kita dalam memutuskan antara yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah.